google-site-verification: google0ff5c5556fbbcbba.html

.:l jendela l:.

Celah Sirkulasi Untuk Berbagi

28.8.11

Opor Ayam Ibu

Diposting oleh diNa |

Saya sangat mengagumi 'fitur' Allah Swt yang bernama Puasa Ramadhan. Selama sebelas bulan seluruh jiwa dan raga 'diperas' untuk memuaskan hasrat hidup. Istilahnya, kadang kaki harus di kepala, kepala kudu di kaki. Itulah tantangan hidup yang harus dihadapi seperti halnya bermain sirkus. Belum lagi, kita tak tahu persis kondisi metabolisme dalam tubuh kita saat ini. Tak jarang juga pakem hidup sehat diterjang. Kualitas makanan dan kualitas istirahat menjadi terabaikan.

Alhamdulillah ada fitur Puasa Ramadhan. Selama satu bulan penuh semua organ tubuh mendapat jatah keringanan kerja. Masing-masing organ dapat terus berfungsi tanpa harus ngoyo (kerja keras). Waktu beribadahpun serasa sayang untuk ditinggalkan. Puasa Ramadhan juga memberikan tantangan seru. Menjelang pagi kita harus bangun menyiapkan masakan untuk Sahur. Seminggu pertama tidaklah terasa, minggu selanjutnya fisik terasa terusik. Tekanan pekerjaan berpacu dengan kantuk yang terus menyerbu. Apapun, tantangan ini sungguh sangat seru. Niat adalah proteksi kuat untuk selalu bersemangat.

Fitur Allah SWT selanjutnya adalah Hari Kemenangan. Perasaan lega jika kita merasa telah memenuhi kuajiban dari Yang Kuasa. Walau belum sempurna, yang penting ikhlas menjalani dan selalu berusaha memperbaiki diri, selanjutnya kita pasarahkan pada Yang Maha Tinggi. Saat Lebaran tiba, inilah saat yang paling dinanti dan diminati.

Prosesi menikmati Hari Kemenangan kurang afdol jika tanpa dilalui dengan ritual mudik, meskipun kadang tidak bisa masuk di akal. Apapaun latar belakang ekonomi, sosial, budaya bahkan agama, mudik adalah sebuah keharusan. Logika benar-benar telah dikalahkan secara telak oleh 'emosi'.

Persiapan mudik pun cukup menguras energi. Kali ini saya membawa oleh-oleh batik Madura hasil hunting langsung dari Pulau Garam. Oleh-oleh buat keluarga untuk mempererat tali persaudaraan. Mudik juga mengharuskan pantat kami harus menempel di jok mobil durasi 7 hingga 9 jam, sangat tergantung situasi dan kondisi di jalan. Belum lagi emosi ikut terbakar manakala ada pengemudi yang tidak bertatakrama.

Lelah pun sirna saat memasuki rumah ibu. Seketika ingatan terulang pada masa-masa kecil hingga remaja. Terlebih jika mendengar suara keponakan berantem berebut gadget. Menjelang sholat Ied, kami harus memetakan jumlah keluarga dengan seat mobil. Ada tradisi dari keluarga saya untuk selalu sholat Ied di alun-alun Kraton Yogya. Lautan manusia dengan keyakinan yang sama memberi spirit tersendiri.

Sepulang Sholat Ied suasana yang paling saya tunggu-tunggu adalah ritual makan bersama Ketupat Opor Ayam buatan ibu. Rasanya gak ada yang bisa mengalahkan enaknya Opor Ayam buatan ibu, bahkan chef master sekalipun :) Kenikmatannya sebenarnya bukan hanya pada masakannya., tetapi juga bagaimana cara kami menikmatinya. Kami makan bersama sambil saling bercerita dan bercanda. Ruang makan favorit kami justru yang di dekat dapur, jauh dari suasana formal dan penuh aturan. Opor ayam ibu benar-benar telah menyatukan kami. Opor ayam ibu telah menjadi ajang semakin mempererat persaudaraan kami. Opor ayam menjadikan kami kembali ke masa kecil yang penuh kebahagian, sebelum akhirnya kami 'tercerai-berai' karena pernikahan. Sungguh terlalu mewah dan indah suasana ini. Suasana yang setiap tahun selalu saya rindukan.

Baca lanjutannya ya...>>>>>
1.8.11

Disorientasi Ruang

Diposting oleh diNa |


Suami saya termasuk orang yang beruntung. Dia sudah mengunjungi 7 sirkuit F1 atas sponsor dari media atau travel agent. Bahkan ada beberapa sirkuit yang dikunjungi lebih dari 1X. Setiap kali dia berangkat, selalu ada pertanyaan kenapa saya ga ikut. Saya selalu jawab sekenanya, ga hobi balapan, ga punya uang atau karena saya ga bisa cuti. Saya pikir jawaban tadi sudah mengunci pertanyaan berikutnya, ternyata tidak! Lahirlah pertanyaan baru, "kalau ga suka lihat balapan ga usah ikut ke sirkuit, jalan-jalan saja putar-putar kota." Berkali-kali mendapat pertanyaan seperti itu rasanya saya ingin mengungkapkan inti permasalahan yang sebenarnya.

Sebenarnya saya adalah penganut paham disorientasi ruang, hahaha... Saya termasuk diantara 90% wanita yang kurang mampu membaca ruang sebaik pria. Jangan tanya saya mengenai arah mata angin atau arah jalan ke suatu tempat tertentu. Rasanya saya ga pernah punya feeling soal arah. Bingung saat harus menentukan utara, selatan, barat, timur kecuali kanan dan kiri. Otak saya benar-benar jauh dari google earth! Saat keluar dari lift, terlebih saat kepala penuh beban pekerjaan, itulah saat kekonyolan saya. Pada saat lift berhenti di lantai tujuan, disitulah pikiran berkecamuk keras, mau ke kiri atau ke kanan? Jawabannya hampir sama, saya selalu memilih arah yang salah! Kaki terhenti ketika lorong berbatas tembok. Hanya balik arah untuk kembali melangkah ke arah yang benar :)

Kebiasaan saya kerap menjadi lelucon keluarga atau teman. Mereka sangat paham kebiasaan saya. Rasanya serba salah, bertanya menjadi bahan olok-olok, tidak bertanya selalu salah arah. Yang paling mengkuatirkan saat saya harus bersama atasan saya atau mitra. Karena kurang mampu membaca ruang, saya kuatir mendapat cap tidak menguasai medan. Sungguh memalukan...

Pengalaman seru terjadi saat Umroh. Sebenarnya hotel tempat saya menginap sangat dekat dengan Masjid Nabawi, hanya berbatas dua jalan. Keluar hotel, jalan lurus sudah memasuki gerbang utama. Suatu saat sehabis saya menjalankan sholat shubuh di masjid Nabawi bersama ibu tanpa kompas hidup (suami), tiba-tiba jalan pulang ke hotel berubah menjadi city tour hanya gara-gara pintu keluar yang saya lalui berbeda dengan pintu masuk. Beribu langkah saya tempuh belum juga menemukan hotel tempat menginap. Saya mencoba malu bertanya untuk mengasah logika dan ingatan. Saya akhirnya pasrah ketika melihat wajah ibu terlihat kelelahan. Ampuuuunnn....

Namun suatu saat saya ngakak mengaca kebiasaan saya soal disorientasi ruang. Biasanya teman, saudara dan suami yang tertawa, kini giliran saya yang ngakak saat membaca sebuah buku. Pertama kali saya membaca buku ini kira-kira 2 tahun yang lalu, tapi saya tak pernah bosan mengulanginya, dan tetap saja tertawa seolah-olah sedang bercermin. Buku karya Allan + Barbara Pease berjudul "Why Men Don’t Listen & Women Can’t Read Maps" benar-benar menguliti saya terutama mengenai terbatasnya kemampuan perempuan dalam membaca ruang. Di dalam buku itu disebutkan jangan pernah memaksa seorang perempuan membaca peta atau petunjuk jalan. Jangan pernah memberi petunjuk arah pada seorang perempuan dengan cara memberitahu petunjuk arah mata angin, namun berikan patokan arah dengan menggunakan patokan gedung. Seolah buku itu menguatkan kebiasaan saya selama ini. Gue banget...!! :)

Dalam buku itu disebutkan bahwa perempuan dan laki-laki memang berbeda. Bukan karena ada yang lebih baik atau lebih buruk tapi hanya berbeda meskipun mereka mempunyai ketrampilan, kemampuan dan potensi yang sama. Disebutkan pula bahwa dengan memahami satu sama lain diharapkan dapat untuk membangun kekuatan secara bersama dan bukan sibuk membicarakan kelemahan masing-masing.

Hmmm... lega rasanya. Ternyata saya masih normal. Uniknya, meskipun saya termasuk penganut disorientasi ruang, namun saya tidak pernah berusaha menguranginya. Biarlah ini menjadi "kelebihan" saya. Tiada manusia yang sempurna (excuse.com).

Baca lanjutannya ya...>>>>>
24.6.11

Pasti Bisaaa...!!

Diposting oleh diNa |

Sebagai karyawan, beberapa kali saya diikutkan dalam seminar atau pelatihan. Ada yang bertujuan menambah pengetahuan, namun ada pula yang bertujuan untuk mengobarkan semangat dan kualitas kerja. Bagi perusahaan jelas penting, kinerja yang baik berkorelasi terhadap peningkatan produktivitas. Untuk karyawan memang perlu, karena 'baterai' semangat sesekali perlu di-recharge agar tetap berkobar dan menyala.

Motivator selalu tampil cerdas dalam mengemas kalimat dan filosofi. Apapun jenis motivatornya, baik yang berbasis dunia kerja profesional maupun yang berbumbu agama. Ujung-ujungnya peserta manggut-manggut tanda kagum atau bangga karena pernah melakukannya. Namun tak jarang tersadar karena mengendornya semangat kerja. Ujung-ujungnya, saat menerima sertifikat akan dibarengi janji untuk bersemangat kembali.

Ternyata, urusan memotivasi diri tidak harus mengikuti seminar atau pelatihan. Tidak harus berada di hotel mewah, makan lezat saat coffee break dan berada di ruangan yang sejuk ber-AC. Juga, tidak harus mendengarkan wejangan dari orang yang 'berpangkat' atau yang mempunyai gelar seabrek.



Saya mempunyai motivator langganan di rumah. Seorang bocah laki-laki yang kini berusia 7 tahun, namanya Taranggana. Kebetulan, saya dan suami belum mempunyai momongan, bocah inilah salah satu dari sekian keponakan yang paling mengisi kavling hati kami.

Dari kecil saya sudah sangat dekat dengannya. Ia pernah rajin hadir tidur di antara kami berdua setiap malam minggu. Sebelum tidur, ritualnya adalah 'ndalang' memainkan replika motor Valentino Rossi atau Casey Stonner. Jika bosan, kadang ia mengambil beberapa boneka hewan dan memainkannya sesuai perannya masing-masing. Sambil menemani, kami membaca majalah atau melayang di dunia maya. Telinga terus memantau celoteh cedalnya. Kami merasa wajib mendengarkan dan sesekali bertanya untuk menjaga kelangsungan ceritera dan berbagi perhatian. Saat kantuk menyerang, ia bergegas turun dari tempat tidur dan meletakan mainannya di meja secara rapi. Saya bangga dengan disiplin tinggi didikan kedua kakak saya meskipun kala itu usianya baru sekitar 4 tahunan.

Jangan kaget, penawaran makanan akan ditolak mentah-mentah kala ia sudah melalui salah satu ritual menjelang tidur yang bernama 'rawat'. Prosesi ini adalah membersihkan seluruh badannya dengan washlap, menggosok gigi dan memakai piyama. Merasa sudah bersih, maka ia akan menolak semua makanan yang ditawarkan kepadanya. Lagi-lagi, sebuah disiplin natural yang dikedepankan.



Sedikitnya teman seusia di lingkungan rumahnya menjadikan ia mau tidak mau harus 'naik kelas' di atasnya. Maksudnya, bergaul dengan teman-teman kakaknya yang terpaut 4 tahunan. Untuk mengimbangi mobilitas, ia harus belajar naik sepeda. Saat itu usianya sekitar 5 tahun. Ketika mendengar anak sekecil itu belajar naik sepeda saya menjadi was-was, bagaimana kalau terjatuh? Jaman saya dulu masih banyak jalan kampung dari tanah, kalaupun sampai terjatuh tidak akan separah jalan aspal. Untuk mengantisipasi itu akhirnya saya membelikan helm. Persyaratan wajib dari saya adalah boleh naik sepeda asal ber-helm, agar isi otaknya yang cerdas terlindungi.

Suatu saat sepulang kerja saya mampir ke rumahnya. Ingin tahu hari-hari pertamanya belajar naik sepeda. Ketika memasuki halaman rumahnya tak henti saya memandang sebuah sepeda butut warisan kakaknya. Sementara sepeda tadi bersanding gagah dekat sepeda baru milik kakaknya. Saat akan melangkah masuk ke rumah, sebuah 'magnet' menarik mata saya untuk menikmati dua buah helm pemberian saya untuk dia dan kakaknya. Sungguh saya sangat trenyuh sekaligus bangga, sungguh di luar dugaan. Salah satu helm ditulisi menggunakan spidol biru. Tulisan yang sangat indah untuk anak usia TK : "Pasti Bisa".

Konfirmasi menyebutkan tidak ada intervensi dari kedua orang tuanya. Dua buah kata yang bermakna sangat dalam. Saya sempat mendiskusikan dengan suami. Kata Pasti, adalah sebuah keyakinan akan kemampuan. Mengandung semangat yang luar biasa besar dan perjuangan tanpa menyerah. Beda dengan kata harus, karena bermakna sebuah usaha. Saya sempat geleng-geleng, anak seusia dia otaknya mampu memilih kalimat dasyat "Pasti Bisa".

Dua kata dasyat ini benar-benar dibuktikan. Dulu, kakaknya butuh satu bulan untuk menggerakan kereta angin ini pada saat usinya 7 tahun. Kini, Rangga telah memecahkan rekor kakaknya, cukup satu minggu untuk menguasai alat transportasi ini pada usia 5 tahun. Ia terus mengobarkan "Pasti Bisa" untuk kemauan kerasnya yang lain yaitu masuk ke tim drum band sekolah TK-nya. Setelah SD, kini ia mengobarkan keinginanya untuk masuk tim Sekolah Sepak Bola (SSB) mewujudkan mimpinya sebagai pesepakbola nasional. Bermodalkan semangat yang membara pula karena keinginannya jalan-jalan ke Jakarta, saat ini Rangga tengah menikmati liburannya di rumah sepupunya seorang diri tanpa kawalan orang tuanya. Melihat semangatnya yang selalu berkobar, energi saya pun selalu terbakar saat bersamanya.

Rangga, Pasti Bisa... !!



Baca lanjutannya ya...>>>>>
10.6.11

No Parti No Cry

Diposting oleh diNa |

Lebih dari sewindu mbak Parti bersama keluarga kami. Waktu yang cukup lama untuk sebuah ukuran loyalitas. Apalagi sekarang cari partner untuk mengurus rumah tidaklah mudah. Salah pilih bisa-bisa kita yang 'disembelih'. Banyak kasus, sehari dua hari bekerja rumah dikuras. Pergi tanpa bekas dengan memalsu identitas. Lemaaaass...!!

Bersama mbak Parti detail kebutuhan dapur dan sekitarnya selalu terpenuhi. Tak jarang mbak Parti mampu menterjemahkan instruksi sekecil apapun menjadi layanan yang cukup berkualitas. Bahkan kadang kreativitas lahir tanpa adanya instruksi yang bergulir.

Makan pagi tersaji setiap hari tanpa harus berkejaran dengan waktu. Mandi, sarapan, hingga baju sudah rapi kena timpahan seterika. Rumah pun sudah rapi tersapu dari debu.

Sret.. sreeettt...., pintu pagar dibuka siap-siap meluncur. Saat itu pikiran hanya tertuju pada pekerjaan yang sudah siap memburu. Nggak pernah terpikir apakah kompor sudah dimatikan, colokan seterika sudah dicabut, bahkan tanpa harus paranoid soal gas menguap.

Saat pulang kerja, di meja makan telah mengepul sayur panas dan bau lauk yang menggaruk selera. Gelas penuh air putih dan jus buah segar berdiri di meja makan dengan tegar. Perutpun siap menampung. Ketika hasil karya mbak Parti memenuhi isi perut, badan pun kembali segar tak lagi mengkerut.

Sambil klesetan, acara TV menjadi suplemen makan malam yang cukup menghibur. Setelah perut tak terasa penat, kamar mandi menjadi ritual terakhir sebelum merebahkan tubuh hingga subuh.

Pagi pun menyapa, mbak Parti pun telah kembali siap siaga...

Sayang kebersamaan itu harus berakhir. Berat, baik secara hubungan kemanusiaan maupun kerja. Sarat, hingga memerlukan proses waktu yang panjang untuk evaluasi yang cukup mengencangkan urat syaraf . Entah kenapa dua tahun ini mbak Parti seringkali emosi tanpa kendali walaupun dalam simbol-simbol yang belum tentu orang lain mengerti. Kesamaan budaya membuat saya paham dan lebih mengerti. Telah berkali-kali pula saya evaluasi secara hati-hati agar lebih mengerti dan peduli. Namun rupanya proses evaluasi dua tahun tetap tidak meyurutkan moody mbak Parti yang menurut kami malah semakin menjadi. Akhirnya dengan berat hati kebersamaan ini harus kami sudahi. Etika, unggah-ungguh, tata krama menjadi materi utama alasan kami.

Kini, saya dan suami harus bangun lebih pagi. Setelah sholat, kami jadi terbiasa dengan check list nasi, Done! Lauk, Done! Setrika, Done! Bersihin kamar, Done!, Cuci Piring, Done!

Berat, tapi sudah tidak ada lagi pemandangan wajah ditekuk terkesan hati kurang terketuk. Tidak ada lagi rasa dongkol yang harus dibawa sampai kantor. Sekali lagi, berat tapi hati lebih tenang. Biar berat dan capek, No Parti No cry...!!

Anyway, tetap terima kasih yang tak terhingga untuk mbak Parti...






sumber gbr : greyskiestb.blogspot.com

Baca lanjutannya ya...>>>>>
1.5.11

Silam Salam

Diposting oleh diNa |

Saya percaya persahabatan itu mulia, bisa tercipta dimana saja. Kuncinya hanya sebuah ketulusan dan keikhlasan. Tidak hanya di dunia nyata, pun di dunia maya. Kadang halangan ceritera hidup dan latar belakang kehidupan sebelumnya bukanlah masalah penting. Kesan pertama menjadi kunci utama. Selanjutnya dengan konsistensi rasa saling menghormati cukup untuk dijadikan modal persahabatan.

Di blog, saya seperti mendapatkan kehidupan baru. Teman-teman silih berganti menyapa. Memberi apresiasi adalah salah satu bentuk penghormatan. Di sisi lain, ada adrenalin untuk bisa menyuguhkan materi lebih bagus dan lebih bagus lagi. Proses inilah yang sebenarnya bermanfaat untuk tubuh. Pikiran dipacu untuk terus berkreasi. Melalui pikiran tadi rasanya seluruh organ tubuh dipandu seperti orkestra untuk berkontribusi. Inilah proses hidup yang bikin hidup lebih hidup. Rasa bosan oleh ritual hidup sebagai karyawan dan ibu rumah tangga dapat sejenak terelakan. Blog adalah salah satu nutrisi kehidupan melawan rutinitas.

Persahabatan di blog kuncinya adalah silaturahim. Ada "kuajiban" kita untuk beranjangsana. Persis agama kita, mengajari untuk berbagi dan empati. Inilah bagian seru dari blog. Semakin rajin beranjangsana, semakin kokoh dan luas persahabatan kita. Semakin rajin blog walking semakin luas wawasan yang mengisi kapasitas otak kita.

SILAM itulah saya. Terpaksa saya lakukan karena saya telah gagal. Kalah oleh tekanan rutinitas hidup. Semestinya saya harus bisa melawan. Seharusnya saya punya senjata ampuh untuk "membunuh"-nya. Rutinitas telah menguasai hidup saya. Fitur-fitur aktualisasi untuk "rekreasi" seperti hal-nya di blog benar-benar mati suri. Butuh kekuatan besar untuk melawan. Kini saya memasuki taraf perlawanan. Ingin menyapa kembali. Ingin merajut kembali persahabatan itu. Rasanya tak sabar ingin berbagi cerita dengan sahabat semua. Apa kabar teman? Saya hadir kembali...







sumber gbr : ayaka95-ceritahati.blogspot.com

Baca lanjutannya ya...>>>>>
19.9.10

BBM Group

Diposting oleh diNa |

Awalnya saya termasuk anggota pasukan anti BB. Waktu itu saya berfikir merk ponsel yang saya pakai masih mumpuni. Fiturnya mampu menjawab kebutuhan hidup berkomunikasi. Dorongan suami, ajakan teman ternyata tidak cukup mempan. Namun ketika mendapat undian dari kantor berupa diskon pembelian dan karena tuntutan pekerjaan barulah saya mencoba BB. Dasar Matre..!! :)

Setelah menggunakan BB ternyata sangat membantu. Urusan kantor lebih mudah teratasi, koordinasi menjadi lebih simple. Komunikasi benar-benar tidak terbatasi. Waktu itu pikiran saya hanya untuk kerja. Dengan berjalannya waktu kondisi itu mulai bergeser. BB telah memberikan kesenangan yang luar biasa. Berawal dari FB yang bisa diakses secara mobile, bisa jadi "teman" saat perjalanan dinas keluar kota. Bikin status, clometan komentar status, benar-benar bagian seru terkadang nyerempet saru. Perjalanan keluar kota jadi terhibur.

Suatu hari tercetus ide mengumpulkan teman-teman lama di dalam Group BBM. Sebelumnya saya hanya punya dua yaitu group yang anggotanya para sahabat saya dan group teman-teman lama yang sudah menyebar. Group pertama yang saya buat adalah group keluarga. Selanjutnya group teman SMA, satu persatu teman-teman SMA saya invite. Seperti multi level marketing, masing-masing membawa downline-nya. Hebatnya, anggota group bukan hanya teman sekelas, tetapi juga lintas kelas dan jurusan. Kemudian group teman kantor lama dan group teman kuliah. Ada 2 group lagi yang saya ikuti untuk koordinasi masalah pekerjaan. Agar tidak mengganggu kegiatan yang sedang berjalan, terutama saat bekerja, suara thang thing thang thung dari BBM Group saya silent, jadi hanya kelip-kelip bintang merah sebagai tandanya.


Diantara group yang saya punya ternyata group teman SMA yang paling aktif dan "gila" namun paling banyak memberi "warna". Dulu semasa sekolah tidak sedikit diantara kita hanya tegur sapa saja kala berjumpa. Kini, hubungan itu bagaikan keluarga. Hal terkecil dalam keluarga dan kerja bisa menjadi obrolan empati. Namun tak jarang obrolan saru jadi penambah bumbu. Guyonan kami masih tetap sama seperti dulu walaupun tempat tinggal sedikit banyak berpengaruh pada dialek kami. Hebatnya, kami masih bersemangat menggunakan bahasa Jawa aliran ngoko yang kasar.

Intensitas ini terbukti pada saat kopdar lebaran kemarin. Muka blingsatan dan jaim mengawali kopdar. Bisa jadi karena sadar bahwa pada saat di BBM Group celoteh ngawur untuk menghibur tanpa melihat langsung muka lawan bicara, kini harus berkomunikasi langsung dengan wajah-wajah yang lama tak bersua dan mulai mengubur kenangan waktu SMA. Dasar ikatan batin kami yang kuat membuat pertemuan awal yang beku segera menyatu. Rekaman celoteh di BBM Group kembali dibahas. Ketawa- ketiwi benar-benar menghibur hati. Melupakan sejenak urusan pekerjaan, kota asal dan pernik kehidupan lainnya.

Setelah kopdar kegiatan BBM bukannya mereda tapi semakin menjadi. BBM berlangsung sepanjang waktu, sepanjang hari. Anggota yang ikut tidak selalu lengkap, tergantung kesibukan masing-masing. Sampai tengah malam pun tak melihat gender semua masih ger-ger-an. Semoga para istri atau suami tidak iri dengan keakraban kami supaya kami tetap bisa ger-ger-an walau hanya melalui BBM.

sumber gbr : www.cio.com





Baca lanjutannya ya...>>>>>
8.8.10

Sabaleha

Diposting oleh diNa |

Bagi orang Jawa, mungkin juga suku lainnya ada dua ritual penting yang sering dilakukan dalam menyambut bulan Ramadhan, yaitu ziarah/nyadran/nyekar dan padusan atau mensucikan diri.

Menyonsong Bulan Suci Ramadhan, ritual ziarah/nyadran/nyekar ke makam leluhur dan kerabat biasanya dilakukan sebagian besar masyarakat Indonesia. Tujuan utamanya adalah mendoakan agar Allah senantiasa memberikan ruang terbaik untuk para arwah. Semakin dekat dengan bulan Puasa, semakin banyak terlihat gerombolan mobil dan motor parkir di mulut pintu makam. Banyak keluarga menyerbu makam dengan menenteng bunga tabur. Masyarakat sekitar makam dengan ramah bergaya guide mengantar dan membantu mencari lokasi makam yang dimaksud. Blok demi blok dilalui dengan kepala berisi GPS peta lokasi makam. Dengan menenteng pacul dan arit sang tamu tak perlu miris, peralatan tadi disiapkan untuk membantu membersihkan makam yang mungkin kurang terawat.

Dampak ekonomi 'kecil' sangat terasa. Perputaran uang dimulai dari penjual bunga tabur dan merembet ke tukang parkir dadakan dan bermuara kepada para pembersih makam. Bayangkan hal ini terjadi pada mayoritas penduduk Indonesia yang jumlahnya menembus 200 jutaan.

Untuk menyambut Bulan Puasa, juga ada tradisi seru yang sering dilakukan yaitu padusan yang berasal dari bahasa Jawa adus (mandi). Ada kuajiban untuk membersihkan diri dan berdoa sebelum memulai Puasa. Di pedesaan, banyak sungai dan sendang menjadi tujuan ritual ini. Seperti halnya makam, tempat ini pun menggulirkan sektor ekonomi 'kecil'. Berbeda dengan suasana di pedesaan, kolam renang dan tempat bermain air lah yang menjadi tujuan utama di perkotaan.

Berhubungan dengan ziarah, nyadran atau nyekar, kebetulan ayah saya bersemayam di sisi Allah di Padang Sumatera Barat. Sebuah perjuangan untuk bisa sowan ke makam ayah. Selain jarak dan waktu, sedikitnya jumlah penerbangan secara otomatis menggelembungkan harga tiket, belum lagi kalau ada tradisi besar seperti saat ini. Hal ini ditambah lagi dengan sistem pengelolaan makam di sana yang memberlakukan sistem sewa yang ketat. Saya dan keluarga harus terus menerus memantau masa berakhirnya masa sewa makam agar Ayah terus dapat dikunjungi.

Makam umum ini terletak di dekat bandara Padang. Luasnya minta ampun. Saya dan keluarga pernah dibuat bingung mencari lokasi makam ayah. Telpon terus menyala memohon arahan dari Om yang telah berjasa memindahkan makam ayah dari gempuran ombak pantai di Payahkumbuh.


Menyerah. Setelah kantor makam buka, akhirnya saya memohon bantuan juru kunci. Ternyata, tidak gampang juga memahami bahasa Padang di telinga orang Jawa. Juru kunci berkali-kali bilang "Sabaleha". Blas saya tidak mudeng, berkali-kali saya mencoba menebak kata itu, tetapi dikandaskan karena salah. Baru setelah ada petugas lain dan menuliskan, ternyata makam ayah saya terletak di nomor Sebelas H (11H). Dengan sigapnya juru kunci renta itu menunjukkan makam ayah saya dengan tepat tanpa toleh kanan kiri. Hebat..!! Hafal di luar kepala..!!

Tahun ini kembali saya dan keluarga harus segera ke Padang untuk memperpanjang sewa makam. Ada wacana makam ayah akan kami pindahkan ke Jawa agar lebih mudah perawatannya. Namun tentu hal ini butuh persiapan. Moga-moga Pak “Sabaleha” selalu diberi kesehatan agar bisa menunjukkan makam ayah lagi, karena saya yakin pasti kami kembali kebingungan mencarinya.




Baca lanjutannya ya...>>>>>
Subscribe