google-site-verification: google0ff5c5556fbbcbba.html

.:l jendela l:.

Celah Sirkulasi Untuk Berbagi

5.4.09

Quick Update

Diposting oleh diNa |

  • Dua minggu ini template blog saya berubah lebih segar. Sebagai blogger pemula rasanya seneng banget bisa sukses ganti template (blog saya sempat jadi berantakan gara-gara ganti template). Kebetuan juga saya dapat template yang bagus (setidaknya menurut saya). Moga-moga nantinya saya bisa bikin template sendiri sesuai keinginan (bisa ga ya?? khayal deh kayanya, hehehe..)

  • Gara-gara makan bebek songkem di Sampang Madura jadi ngetop deh.. Waktu itu kebetulan saya dan temen dinas ke Madura. Pas makan siang kami putuskan makan di Bebek Songkem yang kabarnya top markotop. Lagi asik-asiknya makan, ada reporter TV yang mengambil gambar aktivitas makan disitu, dan yang diambil gambarnya adalah saya! Sebenarnya mas reporter juga sempet nawarin wawancara, tapi saya ga mau, maluuuu… Baru-baru ini gambar itu tayang di beberapa TV, rupanya mas repoter itu menjual warta kuliner ini di beberapa stasiun TV. Jadi setiap kali tayang di stasiun TV banyak temen-temen yang SMS, lumayanlah jadi sedikit ngetop, hehehe..

  • Musim F1 tiba. Berarti ini saatnya hubby ga bisa diganggu. Itu berarti juga weekend agak sedikit terganggu. Kenapa ya laki-laki ga bisa dipisahkan dari hobinya?

  • Sup kepala ikan. Asem, pedes dan segaaaarr.. Hmmm.. ini makanan favorit baru. Kebetulan ga jauh dari rumah ada pusat makan baru yang salah satu restonya menyediakan menu sup kepala ikan. Ga tau kenapa rasanya badan jadi lebih segar setiap kali habis makan sup kepala ikan yang ada di resto itu. Selain masakannya, rupanya saya juga jatuh cinta dengan suasananya, nyaman banget buat santai dan melepas kepenatan, apalagi ada wifi-nya.. cucok deh!

  • Team baru, job desc juga ada beberapa yang baru. Semoga jadi semangat baru dan pencapaian baru yang lebih baik. Amin

Kira-kira itu yang bisa diintip dari jendela ini. Jangan intip yang lain ya.. :)


Baca lanjutannya ya...>>>>>
21.3.09

I can forgive but I can't forget!

Diposting oleh diNa |

MAAF.. empat huruf yang sangat mahal harganya, karena banyak orang masih susah untuk mengungkapkannya. Sebenarnya tidak sedikit permasalahan bisa diselesaikan dengan kata maaf. Bila ada kedewasaan yang dipanglimakan, maka kata maaf dapat meluncur mulus bak mengemudi di jalan tol. Permasalahan bisa segera tersolusikan. Hubungan dari nadir pun kembali ke titik normal, menjauhkan dari persengketaan dan perseteruan. Namun untuk permasalahan yang berakar dari harga diri dan rasa malu, kata memaafkan belum tentu dapat meluncur mulus. Butuh waktu, suasana batin dan mungkin keajaiban untuk memaafkan.

Permasalahan biasanya muncul akibat kuatnya intensitas hubungan yang disertai kekurangpahaman terhadap kondisi lawan bicara. Perubahan kondisi tubuh juga dapat mengakibatkan perasaan sensi yang berujung pada terkalahkannya logika. Padahal logika adalah panglima yang berperan sebagai pengontrol emosi. Jika emosi merajalela tanpa kendali, kata maaf belum tentu menjadi solusi. Tidak semua orang mampu menerima pernyataan ini dalam waktu sekejap. Butuh suasana hati yang pas. Moment adalah saat tepat untuk menyampaikannya.

Sebagian orang tidak mau menyampaikan kata maaf atau menerima maaf secara terbuka. Artinya, perilaku yang berubah adalah indikasi kata maaf telah terucap atau sebaliknya kata maaf telah termaafkan.

Bagi yang mempunyai tingkat kedewasaan tinggi dan agamis biasanya pemurah dalam membalas kata maaf. Orang-orang inilah yang mampu meredakan emosi dunia. Kemurahannya mampu menghilangkan tingkat kedalaman suatu kesalahan. Kemurahannya tidak memandang siapa yang melakukan kesalahan. Kemurahannya tidak memandang asal kesalahan, disengaja atau tidak. Baginya maaf adalah wajib jika diminta.

Mungkin saya agak berlebihan, bagi saya jika kata maaf dianggap murah, maka kesalahan akan mudah tercurah. Saya salut untuk kelompok pemaaf tulus, artinya dari hati hingga bibir kata maaf dan memaafkan meluncur dengan tulus dan bersih. Sepertinya saya belum bisa sehebat mereka. Saya masih belajar memaafkan dengan tulus, sinkron antara bibir dan hati. Bisa jadi kata memaafkan meluncur dari bibir, namun belum tentu keluar dari hati.

Saya mencoba berpikir logis, jika semua orang tahu dan paham apa hak dan kewajiban, paham tata krama dalam berkomunikasi dan bersosialisasi, kata maaf tidak akan boros terucap. Saling menjaga sikap dan perilaku itu wajib. Saya ingin terus belajar memberikan maaf dengan tulus namun saya masih sering menemukan permasalahan konyol yang seharusnya tidak perlu terjadi. Untuk hal yang satu ini tampaknya tataran saya baru sampai...I can forgive, but I can't forget!





Gambar : neenoy.blogspot.com

Baca lanjutannya ya...>>>>>
7.3.09

nge-blog VS nge-facebook

Diposting oleh diNa |

Hujan masih rajin mengguyur. Musim demam karena flu atau bahkan demam berdarah masih banyak menyerang. Tapi bukan dua demam itu yang akan saya bahas, ada demam lain yang lebih dasyat yang saat ini sedang menjamur, demam facebook!

Hari gini siapa yang ga punya facebook? Orang bilang ga punya facebook berarti ga gaul. Remaja, dewasa, mama, papa, oom, tante, oma, opa, semua ber-facebook ria. Coba lihat teman-teman kantor kita yang kelihatannya serius di depan komputer. Benarkah sedang sibuk bekerja? Jangan-jangan mereka sedang asyik dengan facebook-nya? Nah lo..

Situs jejaring sosial yang satu ini memang sedang membius banyak orang. Melalui facebook orang bisa membaca aktivitas yang sedang kita lakukan. Konon saling berkomentar terhadap perubahan status inilah yang paling mengasyikan dan bikin kecanduan. Facebook juga memungkinkan kita bertemu teman-teman lama yang mungkin sudah menyebar di berbagai sudut kota bahkan dunia. Entah karena alasan ingin mencari teman lama atau sekedar agar eksistensi diperhitungkan, kita sibuk menambah teman. Tapi coba kita lihat kembali daftar teman kita, benar ga sih kita mengenal semuanya? Atau sebaliknya, jangan-jangan yang masuk dalam daftar kita justru teman-teman yang setiap hari ketemu, bahkan duduk atau lokasinya tidak jauh dari kita. Hmmm..

Saya tidak tahu apakah blog juga termasuk dalam kategori situs jejaring sosial atau tidak. Yang jelas saya juga bisa bertemu teman lama bahkan teman baru yang akhirnya benar-benar jadi teman di situs ini. Entah kenapa saya belum bisa merasakan asyiknya ber-facebook ria. Bikin perubahan status, berkomentar, tag foto dsb.. dsb.. dsb.. Mungkin saya yang ndeso, katro atau ga gaul, tapi sampai saat ini saya kok lebih menikmati nge-blog daripada nge-facebook. Entah..




Gambar : prayudi.wordpress.com

Baca lanjutannya ya...>>>>>
26.2.09

Lawan Resah

Diposting oleh diNa |

Suara bisik-bisik beredar. Banyak pembawa pesan. Makin hari pesan semakin bikin tegang.

Bukan memilih, bukan menolak apalagi mengatur. Namun masih bolehkah kita jujur?

Bukan tidak bisa. Kita pasti mampu dan berdaya. Namun setiap orang mempunyai akselerasi dan tujuan yang berbeda.

Pasrah..
Mungkin ini kata yang paling pas.. Karena tidak ada pilihan kata
lagi selain pasrah..


Baca lanjutannya ya...>>>>>
14.2.09

Kasih ’kok’ Sayang

Diposting oleh diNa |


Sudah berapa kali para Cucuk Lampah mengantarkan pasangan baru menempuh hidup baru. Sudah berapa kali juga musik Kebo Giro mengalun mengiringi mempelai baru melangkah tegap penuh harap menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah. Memang, puncak dari semua 'gaya' pacaran adalah perkawinan. Entah 'gaya' pacarannya adem ayem, artinya ada restu di tangan saat mulai saat melirik, pedekate hingga perkawinan. Sebaliknya, jika tak ada restu, gaya back street adalah pilihan, walau sulit dan kadang terlalu pahit

Indah, semua terasa indah saat pacaran. Apapun kata orang, telinga orang kasmaran tertutup suara indah, walau mungkin kenyataannya pahit. Saat kasmaran, mata pun tertutup rapat dan hanya keindahan yang terlihat walau hanya halusinasi. Berjuta rasanya, persetan kata orang dan persetan apa yang dilihat orang. Rindu adalah bius. Dunia hanya milik berdua. Semakin rindu berkadar, semakin kuat mencengkeram.

Bagai sebuah bangunan, konon masa pacaran adalah fondasi. Semua bagian berpadu jadi satu dalam keteraturan. Sebuah komposisi yang harmoni. Jelas ini bukan pekerjaan mudah. Karakter sudah terbentuk, pasangan harus mampu mengkompromikan dua karakter yang berbeda. Tidak heran dalam fase ini banyak kasus gonta-ganti pacar. Wajar ini masa penjajagan. Namun, perbedaan bisa diterjang karena masa indah sedang berlangsung. Banyak juga yang berharap semua perbedaan adalah proses panjang yang bisa terkikis saat perkawinan sudah di-release.

Perkawinan. Inilah pembuktian dari segala komitmen. Mirip caleg aja ya.. :) Disinilah sekat-sekat yang memblokade masa pacaran terbuka, blak! Benar-benar semua terlihat nyata. Semakin tua umur perkawinan, semakin semuanya dapat terkuak nyata. Tidak selamanya negatif. Perkawinan bahkan mampu menyuburkan kebersamaan dan mepupus perbedaan. Sebaliknya, tak sedikit pula bunga-bunga pacaran musnah terganti kenyataan pahit, menjerit sangat menghimpit. Banyak kasus yang menyebabkan bubarnya sebuah lembaga sakral ini.

Bukan bermaksud matre, ekonomi menjadi salah satu alasan dalam krisis perkawinan. Dulu, lagu sepiring berdua menjadi bagian yang indah dan menguatkan masa pacaran. Kekuatan cinta diyakini mampu membendung kekurangan dan perbedaan. 'Kenyataannya' (bukan kesimpulan), dewasa ini banyak kegagalan yang dipicu karena faktor ekonomi, walaupun banyak pasangan yang menampik.

Valentine's Day: Hari Kasih 'kok' Sayang. Ingat, jangan hanya (di) kasih sayang tok! Kasih juga pasangan kita masa depan! Syukur-syukur ditambah alphard, deposito, apartemen, berlian, etc.. etc.. hehehe..





sumber gbr : www.theapplecollection.com

Baca lanjutannya ya...>>>>>
7.2.09

Termehek-mehek.. hiks.. hiks..

Diposting oleh diNa |

Malam Minggu dan Minggu malam, tepatnya jam 18.15, ada salah satu acara TV yang cukup menggelitik. Reality Show yang dipandu Panda dan Mandala itu saat ini cukup banyak menyedot perhatian pemirsa. Banyak yang suka, namun tak sedikit juga yang mencela. Saya tak ingin masuk dalam ajang pro kontra soal orisinilitas atau rekayasa, bagi saya ada sisi lain yang lebih menarik untuk dibahas daripada sekedar beradu argumen tanpa berujung pangkal.

Jika melihat media elektronik operator acara tersebut, saya punya keyakinan bahwa ceritera yang tampil tetap mengacu pada etika jurnalistik. Artinya, kebenaran ceritera pasti tetap dikedepankan. Soal bumbu, saya setuju pasti ada, agar ceritera tersaji lebih seru.

"Bila cinta, memang harus diakhiri…". Jika jingle sudah berkumandang, maka biasanya iklan atau credit tittle akan mengakhiri ceritera sebagai puncak perpisahan. Di sinilah awal kepala mulai toeng.. toeng.. toeng... Bak perpustakaan, kepala saya bertambah lagi koleksi baru ceritera seru.

Selain perjalanan haru biru karena ada seseorang yang harus diburu, dalam rentetan perjalanannya sering muncul ceritera yang bikin sesak di dada. Saya nggak habis pikir, ternyata banyak 'kegilaan' di negeri ini. Bayangkan, banyak norma tak lagi dianggap beraroma. Norma apapun dilibas nafsu bejat yang menjerat. Rasa-rasanya urusan duniawi jadi mendominasi. Saya yakin, ini masih sebagian kecil cerita yang diangkat. Yang muncul pasti cerita-cerita kelas berat. Apalagi kalau bukan alasan seru untuk berburu rating dan iklan. Nah, masih berapa banyak kasus lagi yang masuk ke laci meja redaksi dan tidak dihunting oleh Panda dan Mandala dengan alasan berkategori kelas teri.

Apa yang harus dipakai untuk membendung agar generasi yang hadir di belakang kita dapat hidup bercengkerama dalam proteksi norma. Jujur, sebagai salah satu penganut modern normatif (gak usah dicari harafiahnya, karena ini istilah saya sendiri :) ), acara tersebut bisa menjadi sebuah wacana betapa sudah terkikisnya norma dan sanksi sosial di negeri ini. Apakah ini potret negeri kita saat ini? Yang pasti, kita kudu mesti harus tahu bagaimana mencari solusi dan proteksi. Melihat acara ini membuat perasaan kita bercampur aduk, bak bumbu sayur. Menghibur menjadikan tertawa atau malah jadi sedih yang teramat perih. Apapun, 'Termehek-Mehek', seringkali membuat saya jadi bener-bener termehek-mehek dengan banyak dan variatifnya kasus sosial di negeri ini.

Ada yang bikin termehek-mehek lainnya?



Sumber gbr: http://me-ander.blogspot.com

Baca lanjutannya ya...>>>>>
18.1.09

'Orang Ketiga!'

Diposting oleh diNa |


Semua orang pasti mendambakan keluarga yang harmonis. Bisa dibayangkan suasana pasti bakal jadi kacau balau ketika tiba-tiba saja Anda mendengar ada orang ketiga hadir di tengah-tengah keluarga Anda. Sangat mungkin dasyatnya suasana melebihi situasi di Gaza saat ini. Sebuah kepercayaan yang terus dipupuk demi suasana batin yang nyaman mendadak meledak. Orang bilang bak petir menyambar di siang bolong. Ribuan caci maki nyerocos boros sebagai ungkapan pengkianatan. Ungkapan tadi belum berhenti sebelum sesak di dada habis dimuntahkan.

Banyak alasan kenapa orang ketiga hadir. Salah satu penyebabnya adalah karena rasa sakit hati. Bukan kesadaran pasangan yang datang namun justru dendam dan tudingan yang menyerang. Semakin jauh hubungan, biasanya gengsi semakin menjadi. Puncaknya adalah penyesalan untuk sebuah rekonsiliasi. Naudzubillah Mindzalik, inilah yang selalu saya lontarkan manakala mendengar mengenai orang ketiga.

Saya dan suami adalah pasangan yang telah mengarungi ‘samudera’ kehidupan bersama selama lebih dari 10 tahun. Nihil, sampai saat ini kami belum dikarunia momongan. Saya bekerja, begitu pula suami. Setiap hari, kami selalu menyiapkan kebutuhan kerja masing-masing. Serasa check in di hotel bintang 5, saat bangun pagi di meja makan sudah tersaji dua gelas air putih, jus, teh panas dan sarapan. Setelah minum air putih, saya dan suami secara bergantian sholat, mandi dan makan. Sret-sret-sret, dalam sekejap baju kerja sudah terpakai dengan rapi dan menguap bau harum parfum. Setelah kami berangkat kerja, pintu pagar dan pintu rumah kembali tertutup rapat. Bak tukang sulap seharian banyak kejadian mengejutkan.

Saat pulang, ketika badan letih tertatih, saat baju kerja jadi kumal menggumpal, rumah menyapa dengan harumnya bau lantai berbaur dengan lezatnya bau kuliner. Energi baru membawa ke dunia mimpi untuk recharge esok paginya. Saat keluarga lain mencerca dan memberikan jutaan caci maki akan kehadiran orang ketiga, sebaliknya saya dan suami bahagia di tengah ‘orang ketiga’. Terima kasih yang tulus untuk mbak Parti yang sudah terus menerus mensupport saya dan suami. Meskipun bagai cuaca, suasana hatinya kadang gampang berubah. Sekarang nampak cerah tapi tak jarang pula tiba-tiba banyak ulah. Namun tanpa ‘pihak ketiga’ berat rasanya beban harus kami pikul berdua.

Untuk ‘orang ketiga’ yang telah meringankan beban kita, sebenarnya sebutan atau status apa ya yang paling pantas diberikan untuknya?




sumber gbr : rendrasyah.wordpress.com

Baca lanjutannya ya...>>>>>
Subscribe