
Semua orang pasti mendambakan keluarga yang harmonis. Bisa dibayangkan suasana pasti bakal jadi kacau balau ketika tiba-tiba saja Anda mendengar ada orang ketiga hadir di tengah-tengah keluarga Anda. Sangat mungkin dasyatnya suasana melebihi situasi di Gaza saat ini. Sebuah kepercayaan yang terus dipupuk demi suasana batin yang nyaman mendadak meledak. Orang bilang bak petir menyambar di siang bolong. Ribuan caci maki nyerocos boros sebagai ungkapan pengkianatan. Ungkapan tadi belum berhenti sebelum sesak di dada habis dimuntahkan.
Banyak alasan kenapa orang ketiga hadir. Salah satu penyebabnya adalah karena rasa sakit hati. Bukan kesadaran pasangan yang datang namun justru dendam dan tudingan yang menyerang. Semakin jauh hubungan, biasanya gengsi semakin menjadi. Puncaknya adalah penyesalan untuk sebuah rekonsiliasi. Naudzubillah Mindzalik, inilah yang selalu saya lontarkan manakala mendengar mengenai orang ketiga.
Saya dan suami adalah pasangan yang telah mengarungi ‘samudera’ kehidupan bersama selama lebih dari 10 tahun. Nihil, sampai saat ini kami belum dikarunia momongan. Saya bekerja, begitu pula suami. Setiap hari, kami selalu menyiapkan kebutuhan kerja masing-masing. Serasa check in di hotel bintang 5, saat bangun pagi di meja makan sudah tersaji dua gelas air putih, jus, teh panas dan sarapan. Setelah minum air putih, saya dan suami secara bergantian sholat, mandi dan makan. Sret-sret-sret, dalam sekejap baju kerja sudah terpakai dengan rapi dan menguap bau harum parfum. Setelah kami berangkat kerja, pintu pagar dan pintu rumah kembali tertutup rapat. Bak tukang sulap seharian banyak kejadian mengejutkan.
Saat pulang, ketika badan letih tertatih, saat baju kerja jadi kumal menggumpal, rumah menyapa dengan harumnya bau lantai berbaur dengan lezatnya bau kuliner. Energi baru membawa ke dunia mimpi untuk recharge esok paginya. Saat keluarga lain mencerca dan memberikan jutaan caci maki akan kehadiran orang ketiga, sebaliknya saya dan suami bahagia di tengah ‘orang ketiga’. Terima kasih yang tulus untuk mbak Parti yang sudah terus menerus mensupport saya dan suami. Meskipun bagai cuaca, suasana hatinya kadang gampang berubah. Sekarang nampak cerah tapi tak jarang pula tiba-tiba banyak ulah. Namun tanpa ‘pihak ketiga’ berat rasanya beban harus kami pikul berdua.
Untuk ‘orang ketiga’ yang telah meringankan beban kita, sebenarnya sebutan atau status apa ya yang paling pantas diberikan untuknya?
sumber gbr : rendrasyah.wordpress.com
Hari-hari gini adalah musimnya turun hujan deras, bahkan banjir. Bukan hanya banjir air tapi juga ‘banjir’ masa evaluasi dan membuat target hidup.
Saat kaki menapak awal tahun baru, pertanyaan majemuk yang banyak diumbar biasanya seputar resolusi tahun baru. Pada saat blog walkingpun, banyak para blogger yang menulis tentang resolusi ini. Ada yang beresolusi tentang karir, cinta, keuangan, keluarga bahkan tentang kehidupan spiritualitasnya. Tapi benarkah kita harus membuat resolusi setiap tahunnya? Ada sebagian yang memang sengaja membuat dan berupaya keras agar target itu terwujud, tapi tidak sedikit pula yang hanya menggebu-gebu di awal, setelah itu...lupa. Sebagian orang mungkin butuh membuat resolusi, tapi sebagian yang lain resolusi justru membelenggu.
Coba kita tengok ke belakang, target pribadi apa yang sudah tercapai dan apa yang belum. Jangan ngedrop jika ternyata lebih banyak yang tidak tercapai. Tapi coba renungkan kembali keberhasilan-keberhasilan apa saja yang sudah kita raih. Sekecil apapun keberhasilan itu kita harus mensyukuri dan menghargainya. Dengan begitu kita tidak akan merasa bahwa hari-hari kita hanya berlalu begitu saja.
Rasanya tidak ada salahnya kalau setiap detik, menit, jam, hari, minggu atau bulan adalah saat tepat untuk beresolusi. Tidak harus menunggu momen tertentu, seperti tahun baru. Bukannya inti dari resolusi adalah membuat kualitas hidup jadi lebih baik?
Bikin resolusi juga?
Sumber gbr : blogku.blogdetik.com
Bukan sedang ngajak ngomongin segerombolan pria bermusik asal Lampung yang bercirikan rambut ‘polem’ alias poni lempar. Group yang ngetop selain lagu, juga karena jepitan kelompok nyiyir yang malah mampu menyihir.
Saya hanya ingin ngomongin soal kangen. Karena saya sendiri bingung, sebenarnya kangen itu apa... Banyak orang bilang kangen adalah soal rasa. Walaupun begitu proses pendeteksiannya tidak melalui rongga mulut dengan penampang lidah sebagai alat perasa. Alat pendeteksi yang paling pas mungkin hati. Organ yang satu ini sangat dipengaruhi oleh tingkat emosi. Coba bayangkan sendiri soal kangen ini, karena saya takut berteori.
Perasaan ini kadang muncul saat hati sedang gundah, resah atau saat tiba-tiba merasa sendiri dalam pasrah. Saat melow datang, inilah musim kangen tiba. Tidak semua perasaan kangen dapat terobati begitu saja. Meskipun sarana telekomunikasi merajalela, tapi bukan itu jawabnya. Seringkali melamun menjadi solusinya.
Kangen? Rindu? Kata orang sama saja
Sama-sama bikin pikiran melayang-layang
Rekaman tawa, canda, murka muncul bergantian di depan mata
Andaikan saja masa bisa kembali diputar ulang
Kangen, begitukah?
Sumber Gbr : eykahamasuba.blogspot.com

Bagi umat muslim, pasti semua sudah tahu tentang makna Qurban. Namun, karena pemahaman saya tentang agama masih jauh dari sempurna, saya ingin berbagi melalui jendela ini sisi lain dari berkorban.
Jelas, yang namanya berkorban tidak lepas dari kata ikhlas, atau orang Jawa bilang legowo. Bisa saja mata menyuruh otak agar tangan kita merogoh dompet dan melalui tangan eksekusi berkorban berlangsung, tapi ternyata hati kecil kita berontak, “Kok banyak juga ya..” atau “Jangan-jangan tidak digunakan sebagaimana mestinya..” Ternyata sulit juga ya berkorban dengan ikhlas.
Hari Minggu kemarin saya ke klinik medis gara-gara rasa serak menyeruak di tenggorokan. Batuk terus menerus membangunkan tidur. Saat panggilan dokter umum memecah sepinya klinik di hari Minggu, bersamaan itu bocah kecil meraung-raung menangis dalam gendongan sang baby sitter, sementara itu papanya sibuk mengurus administrasi pendaftaran. Tidak tega dengan tangisan si bocah, saya putuskan untuk mengalah mendahulukan anak tersebut. Tidak berapa lama kemudian suara tangis bocah kembali bergema di pelukan sang pengasuh keluar dari ruang praktek dokter. Saya berpikir tidak lama lagi papanya pasti juga ikut keluar. Namun tunggu tinggal tunggu, ternyata papanya tidak kunjung keluar juga. “Jangan-jangan papanya gantian konsultasi”, gumam saya sedikit geram. Jawaban suami pun membuat saya jadi sedikit terhenyak.. “ Tadi minta si anak kecil masuk duluan, sekarang giliran lama kok ngedumel..”. Nah lo.., ternyata berkoban itu tidak mudah juga ya.. Padahal ini baru sebagian hal kecil dalam kehidupan!
Berkorban biasanya dikaitkan dengan menyerahkan sesuatu yang berharga kepada orang lain. Bisa berupa cinta, harta, nyawa, waktu, ilmu atau yang lainnya. Kita harus menerima keputusan yang tidak sesuai dengan idealisme kita, itu berkorban. Pengennya nonton film A, tapi jadinya nonton film B sesuai keinginan pasangan kita, juga berkorban. Transfer ilmu yang kita punya kepada junior kita, juga bagian dari berkorban. Meluangkan waktu kita untuk mendengarkan curhat teman, ini pun berkorban.
Tanpa sadar sebenarnya kita sudah banyak melakukan aktivitas berkorban. Kalau hal ini biasa kita lakukan dengan ikhlas untuk orang-orang di sekeliling kita yang membutuhkan niscaya hidup kita semakin membumi penuh arti. Bahagia. Bukankah sudah banyak kenikmatan yang diberikan olehNya untuk kita?
Sedang belajar berkorban juga seperti saya?
Sumber Gbr : lilblog.multiply.com
Aturan baku ke Madura harus melalui Pelabuhan Perak, menumpang Ferry menuju Kamal Madura dengan durasi melaut kira-kira 30 menit. Mau nyaman? Kompromi dengan sopir untuk tetap menyalakan mesin mobil agar AC tetap berhembus sejuk. Setelah berlabuh, mulailah mobil menyentuh aspal jalan yang sempit, mirip dengan jalan-jalan di Bali. Hati-hati jangan ngebut, karena angkot di sana kadang-kadang bisa berhenti mendadak, memotong jalan. Hati-hati juga banyak pasar membelah jalanan yang sempit dan agak bergelombang. Banyak hal yang ingin saya bagikan gratis untuk teman-teman melalui Jendela rumah saya.
Sampang. Inilah kabupaten kedua setelah Bangkalan. Waktu tempuh dari Surabaya kurang lebih 2 jam. Setelah mengunjungi pantai Camplong, jangan lupa mampir ke Bebek Songkem. Ceritera ‘mak nyus-nya’ kuliner ini sudah menyebar luas. Banyak program kuliner yang mengulitinya. Bahkan pada saat saya makan siang di sana salah satu TV swasta nasional sedang mengupas makanan ini, beruntung saya dapat menghindar dari target wawancara, karena saya tidak ingin terkenal, hehehe.. Keistimewaan makanan ini karena bebek yang telah dibalut dengan berbagai macam bumbu dikukus dalam bungkus daun pisang. Bagi yang tidak suka bebek seperti saya bisa memesan ayam. Bebek atau ayam yang sudah dikukus akan lebih enak lagi kalau digoreng, hhhmm… bener-bener mak nyuuuss.. Nah, sebagai pencuci mulut, kita bisa membeli jambu air yang terkenal sangat manis rasanya.
Madura juga terkenal dengan garam, karapan sapi, batik dan ramuan Maduranya. Tapi disini saya tidak akan membahas tentang karapan sapi, garam atau dasyatnya ramuan Madura (hmm.. pasti deh pada tau semuanya), saya hanya akan sedikit mengupas mengenai uniknya batik Madura.
Batik Madura agak sedikit berbeda dengan batik-batik lainnya. Di banyak daerah, kebanyakan batik didominasi warna natural kecoklatan, namun tidak di Madura. Batik Madura kebanyakan didominasi warna cerah merah dan hijau, warna-warna yang dinamis. Di Bangkalan konon ada perkampungan penghasil batik, tepatnya di daerah Tanjung Bumi. Sayang saya belum sempat kesana. Namun di Pamekasan ternyata saya menemukan satu rumah penghasil batik Madura. Begitu melihat batik-batik terpampang rasanya jadi lapar mata. Harga kain sarung hanya sekitar Rp. 30.000 an, kain baju yang berukuran lebih kurang 3 m tidak lebih dari Rp. 65.000,-. Batik sutera berikut kerudungnya hanya berkisar Rp. 200.000,- an. Harga batik memang tergantung jenis kainnya. Sayang, saat itu hari sudah sore, jadi saya dan teman tidak punya banyak waktu untuk mengaduk-aduk lebih dalam lagi, karena kami tidak mau terlalu malam sampai di rumah.
Setelah durasi 4 - 5 jam dari Surabaya, kita akan sampai di Sumenep. Kabupaten paling timur dari pulau ini. Disini terdapat pantai yang kabarnya lebih indah daripada Kuta Bali. Disini pulalah konon pusat Kerajaan di Madura. Di Sumenep memang banyak obyek wisata dan bangunan bersejarah, salah satunya masjid Agung Sumenep. Entah kenapa saya selalu berusaha menyempatkan sholat disini. Masjidnya kuno, arsitekturnya unik, karena merupakan kolaborasi budaya Madura, Eropa dan Cina. Konon masjid ini sudah berusia ratusan tahun. Sholat di masjid ini rasanya adem dan tenang. Angin semilir mengantarkan saya bersujud padaNya.
Meskipun panasnya cukup menyengat namun Madura menyimpan aura yang luar biasa. Tertarik ke Madura?
Baca lanjutannya ya...>>>>>
Mumpung bulan Syawal belum lewat, mohon maaf lahir batin juga buat semua yang sudah mampir, semoga kita kembali ke Fitri.
Lebaran kali ini terbilang sangat asyik. Keluargaku bisa berkumpul lengkap. Kakak laki-lakiku yang 2 tahun ini absen karena kesibukannya dapat berpartisipasi dalam gathering tahunan keluarga. Jujur, bukan kakakku yang membuat suasana seru, tapi dua anak cowoknya, raka (9 tahun) dan rangga (5 tahun).
Aku mudik duluan, sampai di Jogja hari Sabtu sore tanggal 27 September. Minggu pagi, Raka dan Rangga bersama kedua orang tuanya sudah memberi warna suara anak-anak diantara dominasi suara dewasa di rumahku. Ketika kelelahan sudah menghilang, dua makhluk ini berhasil membuat ibuku sedikit panik dan berkali-kali meneriakan kata awas dan himbauan lainnya manakala barang-barang di rumah diacak-acak dijadikan mainan.
Minggu, tanggal 28 Sepetember sore, penghuni rumah bertambah. Adikku datang dengan anaknya Rafi (6 tahun) plus 'pawang'nya. Kini, pengacakan barang-barang semakin seru dengan kolaborasi 3 jagoan. Dua dari Surabaya plus satu jagoan Jakarta.
Ibuku adalah orang yang sangat detail soal kebersihan dan kerapihan rumah. Tidak salah, kalau rumah Belanda yang aku tempati tetap kelihatan seperti Noni-Noni cantik yang malas beranjak tua. Namun, kerapihan rumah yang terjaga menjadi tak berdaya dengan intervensi 3 jagoan yang berlabel cucu.
Selasa pagi, suamiku sampai di Jogja. Selasa sore kakak tertuaku ikut bergabung bersama suami dan anak semata wayangnya, Dito. Rumah Belanda tempat kami tinggal semasa kecil rupanya tidak cukup lagi menampung kami yang sudah berkeluarga dan beranak pinak. Jadi terpaksa sebagian dari kami harus tidur di hotel yang tidak jauh dari rumah.
Dito berusia jauh lebih tua, sehingga posisinya menjadi 'kepala suku'. Formasi pun menjadi lengkap. Terpancar perasaan senang dari raut wajah ibuku melihat polah tingkah cucu-cucunya. Mbak Yah yang sehari-hari membantu ibu di rumah pun memilih tidak Lebaran di Wonosari tumpah darahnya. Rasa tulus dalam balutan bisnis bisa jadi bagian dari strategi tahunannya. Buktinya, aku merasa wajib dan ikhlas membawakan baju lebaran untuk dia dan kedua anaknya, plus salam tempel yang diikuti dua kakakku plus adikku. Berbagi adalah kudu di hari Lebaran. Mbak Yah memilih tetap tinggal bersama, hingga wajahnya selalu sumringah.
Walaupun ada beberapa bagian keluarga yang 'terpaksa' tidur terpisah, namun hari Rabu jam 06.00, semua sudah kumpul di rumah. Tujuannya adalah Sholat Ied bersama. Setelah semua siap, mobil-mobil yang masih lelah menempuh ratusan kilometer itu meluncur membawa keluarga kami menuju Alun Alun Lor. Jam masih menunjukan 6.30, namun akses menuju Alun Alun Lor, halaman utara Keraton Jogja tempat Sholat sudah macet. Kami memilih parkir di Jln. Brigjen katamso. Jauh?? Lumayan. Kelompok usia 5 tahun menempel orang tua masing-masing, bersiap-siap minta gendong. Saya pun menempel ibu memapah dalam suasana kangen. Kami berjalan bersama menembus rangkaian mobil parkir dan derap kaki jamaah lainnya.
Puluhan fakir miskin menjulurkan tangan menyapa. Bersamaan pula pedagang makanan, balon, minuman bersiap menerima limpahan rejeki. Termasuk bau menyengat sate gajih yang terus dikipas dengan aroma berhamburan terdorong angin. Mbok-mbok bakul penjual telor merah menor juga sudah duduk simpuh menyapa para jamaah.
Sesampai halaman Alun-Alun Lor Kraton Jogja, keluarga saya pun terpencar berdasarkan gender. Kelompok laki-laki meyeruak maju melewati lautan debu. Hujan yang belum turun menjadikan alun-alun dijauhi rerumputan hijau dan berganti lautan debu nan gersang. Sedangkan, kelompok perempuan ada di belakang.
Selesai Sholat Ied, kembali keluargaku dipersatukan oleh letak parkir mobil. Tidak ada yang berkeinginan jalan duluan. Bukan tidak berani, namun semuanya menunggu kehadiran Ibu. Hormat? Pasti. Tapi yang lebih pasti ibu ditunggu karena membawa kunci rumah. Iring-iringan mobil kembali menuju ke rumah. Sesampai di rumah, peluk cium dan bersalaman menyampaikan rasa maaf berbaur dari usia muda ke saudara yang lebih tua. Setelah selesai, barulan pesta dimulai.
Ketupat dibelah dan dipotong. Selanjutnya Opor ayam yang diikuti sambal goreng disiramkan di atasnya. Satu persatu piring yang telah berisi makanan khas Lebaran itu diambil pengantri dan mulai dinikmati sambil bercengkrama. Jujur, momen inilah yang paling aku suka. Kumpul dan menikmati masakan ibu yang puluhan tahun selalu menemani Lebaranku.
Setelah makan bareng klar, saatnya 'open house' dimulai. Puluhan paket makanan kecil dan uang jajan berpindah ke tangan-tangan kecil dengan semangat kebersamaan di hari Lebaran. Setelah itu hilir mudik tetangga dan saudara mampir di rumah ibu, bersilaturahim dan saling bermaafan.
Seminggu benar-benar kepala jauh dari rutinitas dan target perusahaan. Namun target yang terbeban adalah hunting makanan, jalan-jalan dan beli oleh-oleh buat teman-teman karena harus menembus macetnya Yogyakarta yang diserbu oleh para pemudik yang datang dari berbagai kota. Namun beberapa macam makanan sudah berhasil saya taklukan, dari berbagai soto khas Jogja, mie godog, kupat sayur- sate lembu dan gudeg yang akan saya kupas setelah posting ini. Tunggu yaa.. :)
Pulang kampung. Asyik. Inilah cuti yang sebenar-benarnya. Seringkali kita dapat break cuti dengan tujuan recharge. Tapi benarkah itu bisa kita lakukan? Bayangin, ketika cuti kita disetujui bos, orang lain tetap pada aktivitasnya. Dampaknya, walau kita cuti resmi hanya orang sekitar kita saja yang tahu bahwa kita libur. Bagaimana dengan mitra, teman dan saudara? Blas, mereka tidak mungkin tahu bahwa kita sedang cuti. Bisa ditebak, ponsel kita tetap saja krang-kring, krang-kring. Yang nelpon bukan hanya yang tidak tahu, yang tahu pun tetap saja nelpon kalau ada hal yang mendesak. Meskipun sudah disilent, rasa was-was pingin tahu adakah telpon atau sms penting masuk membuat mata kita terus melirik ke layar ponsel.
Lebaran? Inilah kebersamaan dalam cuti dan cuti yang sebenar-benarnya. Kompak libur. Rasanya pamali kalau masih tega-teganya ngomongin kerjaan.
Obrolan seru minggu-minggu terakhir Ramadhan didominasi rencana mudik dan perlawanan malas kerja pada saat semakin mepet jadwal mudik. Semua TV dari channel ke channel berlomba menyajikan gambar suasana mudik, baik lewat darat beraspal atau berbesi dobel, maupun yang menembus awan dan mengambang di air. Saya hanya bisa bilang salut untuk mereka yang memilih fasilitas minim. Hebat, mereka benar-benar berjuang keras untuk mencapai kampung halaman. Di jalan, saat melaju ke kantor, tampak deretan orang dengan kardus bertali rafia jauh hari sebelum Lebaran sudah meninggalkan kota mengejar diskon transport. Saya hanya bisa bergumam, asyiknya mudik! Umpatan macet hilang karena jalan menjadi lengang.
Kebiasaan saya menjelang mudik adalah membongkar baju-baju yang sudah jarang dipakai. Tapi operasi almari ini seringkali tidak berjalan mulus. Meskipun isi almari sudah berdesakan, tapi rasa sayang kadang masih menghalang. Padahal yang membutuhkan pasti senang menerima pakaian-pakaian yang sudah berpengalaman diajak bekerja dan dolan. Kalau sudah begini saya harus 'tutup mata' agar rasa sayang tak lagi menghalang.
Hunting makanan kecil adalah kebiasaan kedua. Kebetulan setiap Lebaran setidaknya ada 150 anak yang selalu datang ke rumah ortu. Pada saat itu biasanya ortu memberikan bingkisan beberapa jenis makanan kecil yang dikemas cantik dan sedikit uang jajan. Menyenangkan.
Soal jadwal mudik dua tahun ini agak kacau. Tahun lalu saya baru pulang sehari menjelang Lebaran, karena suami baru pulang menikmati hobinya. Tahun ini pun rasanya demikian. Agar masing-masing terpuaskan, kami sepakat tidak mudik bersama. Saya mudik duluan ke Jogja hari Sabtu, suami menyusul hari Senin. Inilah salah satu bentuk penghormatan terhadap ruang pribadi masing-masing (hmm..).
Alhamdulillah, Allah mempunyai 'fitur' mudik sehingga saya tidak harus tercabut dari akar budaya, tetap bisa menjalin tali silaturahmi dengan keluarga, tetangga dan teman.
Tapi ada satu yang mengganjal, cuti tambahan saya tidak disetujui Bos dengan dalih pengamanan target. Ternyata cuti Lebaran masih harus mikir kerjaan juga, jadi teori saya gugur dong, hehehe..
Mudik juga kan?
Follow me
About me
Popular Post
Recent Comments
Friends
Online
Visitors Since 29/1/09
Blog List
-
-
Blog Mendadak Dihapus, Berasa Diusir Tanpa Alasan5 minggu yang lalu
-
Menolak BOP: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah6 bulan yang lalu
-
Kupang: Tiba Tak Terencana, Pulang Dengan Cerita8 bulan yang lalu
-
-
Rekomendasi Olahraga Untuk Menurunkan Berat Badan3 tahun yang lalu
-
Jalan – Jalan Jenius di Eropa6 tahun yang lalu
-
Hello !!!7 tahun yang lalu
-
Hallo10 tahun yang lalu
-
Tentang Undangan Terindah11 tahun yang lalu
-
New product in the “Chrysos” family11 tahun yang lalu
-
My blog list for backlink11 tahun yang lalu
-
Kepribadian Wanita Dilihat Dari Bentuk Bibirnya13 tahun yang lalu
-
Ada Apa di Pulau Penguin?13 tahun yang lalu
-
Muncul Lagi13 tahun yang lalu
-
ptp14 tahun yang lalu
-
SKSD kabeh!14 tahun yang lalu
-
Sekalinya posting, tetep ga penting :p14 tahun yang lalu
-
Teori Relativitas15 tahun yang lalu
-
KH Zainuddin MZ Wafat....15 tahun yang lalu
-
Pyramid Psikoanalisa15 tahun yang lalu
-
LELEHAN RINDU16 tahun yang lalu
-
we never even got a chance to say good bye17 tahun yang lalu
-
aksioma...17 tahun yang lalu
-
September already20 tahun yang lalu
-
-
-
-
-
-
-
-


