google-site-verification: google0ff5c5556fbbcbba.html

.:l jendela l:.

Celah Sirkulasi Untuk Berbagi

31.8.12

Lebaran dan "Hari Ibu"

Diposting oleh diNa |

Pagi-pagi ibu sudah mengoprak-oprak anak, cucu dan menantu agar bergegas berebut untuk urut mandi. Rumah londo kecil yang asri terasa sesak penuh dengan kami para pemudik. Beruntung, rumah ini dijejali 3 kamar mandi sehingga mempermudah percepatan distribusi kami untuk segera mandi, berkemas dengan baju muslim baru dan berbagi koran bekas sebagai alas sajadah. Berrrrrr......, mobil kami beriringan melaju menuju Alun-Alun Lor Kraton Jogja untuk sholat Ied. Selesai sholat Ied, berrrrrrr..... mobil kembali beriringan melaju ke rumah ibu. Step selanjutnya adalah berkumpul di meja oval dekat dapur. Para cucu mendapat pelayanan pertama sarapan kupat opor ayam, masakan khas ibu di Hari Lebaran. Dilanjutkan para senior mengaduk-aduk daging ayam sesuai selera. Berkali-kali dan bertubi-tubi guyonan penuh ledek menghiasi kehangatan keluarga saya. Tanpa sadar guyonan kadang melintasi batas makna lebaran untuk saling memaafkan. Nol kilometer alias kosong-kosong yang baru saja disepakati akhirnya tanpa disadari telah terlewati. Keseleo lidah membuat para cucu gampang mecucu. Inilah dunia anak yang penuh dinamika. Lucu, seru dan selalu bikin rindu.

Usai makan, ibu mulai open house. Bak pejabat, antrian anak-anak dan tetangga sekitar sudah memanjang. Tradisi berbagi khususnya untuk anak-anak dimulai. Berderet anak-anak antri silaturahmi dan ibu menyampaikan paket tali asih dengan rapi. Seruuuuuu....

Sayang ritual rutin itu untuk tahun ini terpaksa absen. Jauh di tengah puasa Ramadhan, ibu jatuh sakit. Sudah 4 pack darah di Jogja belum juga menunjukan titik terang. Evakuasi dari Jogja berharap solusi. Suntikan 5 pack darah di Surabaya disertai observasi kelas tinggi alhamdulillah membuahkan solusi. Ibu mengalami kebocoran di usus halus. Butuh waktu panjang mulai observasi, operasi potong usus hingga pemulihan. Semua harus ikhlas. Ibu harus legowo menerima ujian dari Allah. Memeriahkan kemenangan bangsa saat 17 Agustus dan umat Islam pada saat Lebaran terpaksa dilakukan di rumah sakit. Keluarga juga harus legowo menjauhkan pikiran dari asyiknya mudik.

Ada hal baru bagi saya dan keluarga. Usia ibu yang sudah cukup lanjut ternyata mendatangkan perhatian baru pasca operasi. Ibu menderita derilium. Kondisi ini ternyata membutuhkan perhatian khusus yang tulus dari keluarga. Obat tidur tidak juga manjur. Ibu menjadi hiperaktif untuk turun dari tempat tidur dan meminta untuk kondur. Tenaga menjadi berlebih. Halusinasi menghiasi jam perjam dalam kesehariannya. Kami berpiket menjaga. Gerogotan lelah dan stress tidak kami rasakan. Ibu tetap segalanya bagi kami. Ketulusan kasih sayang selalu kami kedepankan. Kupat opor yang biasa ibu sajikan, kali ini kami ganti menjadi Hari Ibu, alias hari-hari untuk ibu.

Alhamdulillah, 23 Agustus lalu ibu sudah boleh keluar dari rumah sakit setelah hampir sebulan menjadi rumah kedua bagi kami. Delirium pun telah punah. Tinggal pemulihan usus dan belajar berjalan setelah hampir sebulan hanya tiduran. Kemarin ibu ulang tahun yang ke 74 tahun. Doa kami buat ibu, selalu sehat, bahagia dan panjang umur. Aamiin...

Bulan Agustus, menjadi bulan istimewa bagi kami. Puasa Ramadhan, Lebaran sekaligus "Hari Ibu".


 

Baca lanjutannya ya...>>>>>
27.4.12

Nonton Konser - Antara Mata, Telinga dan Hati

Diposting oleh diNa |

Seharusnya tulisan ini di-posting bulan Februari, namun baru sempat hari ini. Repot, ga sempat, banyak kerjaan, ga mood, menghiasi serentetan alasan klasik. Apapun itu, meskipun kejadiannya sudah sekitar dua bulan yang lalu, namun rasanya sayang untuk dibuang.

Kapan ya saya terakhir nonton konser? H
mm... rasanya sudah lama sekali. Saat masih di department yang lama saya sering sekali nonton konser dalam maupun luar negeri gratisan. Yup, kerja plus dapat hiburan. Saking seringnya kadang saya ngerasa bosen. Penyanyi atau band yang sama kadang saya lihat dua sampai tiga kali.

Ketika band-band era 80-an bangun dari tidur, banyak generasi sebaya saya seakan menemukan telaga penghilang dahaga. Memang harus diakui banyak group band atau group vocal yang bagus dan bermutu pada tahun 80-an, sebut saja Kahitna, Java Jive, KLA Project, Katara, Karimata, Krakatau dll.

Bulan Februari kemarin ada 3 group band tiba-tiba muncul di Surabaya. Java Jive, KLA Project dan Kahitna. Yang terakhir ini memang sudah lama saya tunggu-tunggu sejak kemunculannya di Jakarta dan Bandung. Lihat konsernya disiarkan di TV saja saya senang, apalagi lihat live-nya. Hampir semua lagunya saya hafal.

Sebelum tahu Kahitna mau konser di Surabaya, kebetulan CD-nya setiap pergi dan pulang kerja selalu setia menemani. Begitu terima BBM broadcast dari teman kalau Kahitna mau konser di Surabaya, dalam hati langsung berteriak, bungkuuuusss....!! Pada hari yang sama salah seorang teman yang bekerja di salah satu radio juga BBM, Java Jive konser di Surabaya, tulisnya. Belum tahu mau nonton dengan siapa, dalam hati saya bertekad, harus nonton dua-duanya! Setelah berita itu, BBM group sibuk membahas persiapan nonton konser di sela-sela koordinasi pekerjaan. Seruuuu...

Kumpul bersama menjadi ritual mahal bagi saya dan teman-teman yang setiap hari bergumul dengan target dan target. Benar-benar kenikmatan berlebih. Bukan hanya sekedar nonton bareng tapi bumbu kelakar para sahabat kantorlah yang menjadikan suasana menjadi tak biasa.

Era 80-an bukan hanya kembali hadir namun juga membawa kenangan seru waktu kuliah dulu. Banyak lagu yang me-refresh memori indah, bahkan konyol. Semua kembali nongol. Benar-benar membuat hidup semakin hidup. Meskipun sempat molor, namun bukan masalah bagi saya dan teman-teman. Sambil menunggu open gate kami sempatkan untuk jeprat - jepret. Belum lagi ada rejeki nomplok saat nonton Java Jive dan KLA Project. Sebenarnya tempat duduk saya dan teman-teman di belakang. Tiket yang kami pegang tipe "i", alias irit. Saat menempatkan pantat pada posisinya kegaduhan di antara kami terjadi. Gara-gara salah satu teman saya ada yang jeli melihat rejeki. Dengan gagah ia berani melakukan migrasi ke kelas di atasnya. Terlihat aman, kami pun ikut terdorong. Seperti gank motor saat pimpinan memberi komando anak buahnya untuk bergerak, kami pun serempak mengikutinya. Kini, tempat kami semakin dekat dengan stage. Senangnya.

Untuk Kahitna, kami sengaja memilih tiket yang nyaman meskipun harus merogok kocek agak lumayan. Sungguh ga bisa dibayangkan kalo lagu-lagu Kahitna dinikmati dalam situasi yang ga nyaman. Menikmati lagu-lagunya butuh situasi yang bisa membuat kami mengawang, terbang, dan terkenang-kenang, hehehe...

Nyali kami terlihat kembali saat bernyanyi. Mau fals atau merdu, pokoknya teriak. Yah, kami rame-rame beraktualisasi diri. Tidak ada perasaan rendah diri yang penting hepi. Saya yakin pasti di sekitaran kami ada penonton lain yang terganggu dengan suara sumbang kami. Inilah kami dengan potret kami sendiri. Cuek ajah..!!

Konser kali ini ternyata bukan hanya tontonan mata dan hiburan telinga semata. Namun jauh sampai ke hati. Dalam. Rasanya sangat berlebih yang bisa saya bawa pulang. Motivasi baru terlahir, adrenalin terbangun, keceriaan terpancar, kebahagiaan menghadang. Rasanya segalanya menjadi mudah, enteng dan ada jalan. Memang betul, refreshing itu penting.

Baca lanjutannya ya...>>>>>
20.1.12

Ketika Harus Jatuh Cinta (Lagi)

Diposting oleh diNa |

Bagaimana rasanya jatuh cinta? Mengawang, berbunga-bunga... Dunia terasa lebih indah. Begitulah kira-kira yang sedang merasakan. Kalau saya, rasanya butuh waktu untuk merangkai kembali serpihan sejarah itu, maklum sudah terlalu lama perasaan itu meraja. Namun cinta memang selalu bikin gemas untuk dibahas, seru untuk diburu dan selalu asik mengulik hati. Atas nama cinta segala sesuatunya menjadi lebih mudah, indah dan bergairah.

Mau yang rasa monyet, yang buta atau serius, cinta selalu mempunyai kandungan rasa kangen 90%, sisanya rasa nano-nano, alias campur aduk. Tanpa pandang bulu tingkat pendidikan, status sosial, dan budaya, cinta mampu membutakan segalanya. Selain rasa lapar dan haus, rasa lain yang muncul hanya kangen, kangen dan kangen.

Setelah perkawinan kami lebih dari 10 tahun, tiba-tiba rasa itu datang. Belum pernah sedasyat ini, benar-benar membutakan. Perasaan klik di awal perjumpaan seperti kamera SLR, klik.. klik.. klik.. suara klik terus berbunyi tanpa menyisakan jeda. Cinta itu ternyata juga menghadirkan perasaan takut kehilangan tanpa jaminan asuransi. Akibatnya, ingin selalu dekat dan lekat seperti perangko dan amplop. Melamun, mengawang, membayangkan sering hadir tanpa permisi. Sedang apakah dia? Bahagiakah dia hari ini? Kangen jugakah dia?

Saya pikir perasaan itu sudah beku. Sudah lebih dari 10 tahun, seharusnya perasaan itu sudah terlupakan. Saat ini perasaan itu tiba-tiba menjelang. Cinta membara berangsur menjadi simpati, empati dan menghormati. Ampuuuunn.... seperti kena batunya, perasaan itu semakin membelenggu. Seperti di gang buntu, tidak ada jalan untuk menghindar.

Yah... rasa itu muncul kembali di kota kembang. Parisnya pulau Jawa ini telah menghangatkan suhu dingin yang menusuk hati. Seperti selimut tebal, mampu menghangatkan kembali perasaan itu. Tanpa skenario, pertemuan pertama tanpa diduga membawa kegembiraan yang luar biasa, hati menjadi cerah ceria. Gila, sulit membohongi perasaan ini. Ketika pesawat membumbung tinggi meninggalkan bumi Parahyangan rasa itu terus membuntuti. Seperti bayangan, selalu melekat, dekat.

Takut. Lama-lama, saya takut kehilangan. Maukah kamu menjadi orang kedua dalam hidupku? Dalam kehidupan kami? Datanglah dalam realita untuk menjauhkan bayanganmu itu. Panggilah aku ibu... Deasy, maukah nak?






gambar : darisini


Baca lanjutannya ya...>>>>>
24.12.11

Akhir Tahun, Awal PR

Diposting oleh diNa |

Ketika tatanan alam masih 'perawan' seperti dulu, semua unsur alam bergerak dalam sebuah keteraturan. Saking teraturnya kakek dan nenek moyang kita mampu membuat rumusan 'jitu' kapan musim kemarau dan hujan akan datang dan pergi, hingga penanggalan nasional pun mampu dimaknai. Salah satu yang saya ingat betul adalah bulan Desember.

Bulan ke 12 sebagai bulan terakhir ini dimaknai sebagai gede-gedenya sumber, di mana bulan ini adalah puncak curah hujan. Dampaknya, semua sumber air melimpah ruah. Ujung-ujungnya banjir mengalir di mana-mana. Bukan hanya itu, gede-gedenya sumber juga bermakna banyak bonus atau insentif yang keluar di akhir tahun. Pundi rekening pun terisi sedikit lebih banyak dari biasanya. Bulan ini juga dimaknai dengan banyaknya orang yang melangsungkan hajatan. Sebagai manusia sosial, disinilah sumber pundi kita sebagian digerus oleh tradisi berbagi. Secara bergantian tradisi berbagi ini merupakan bagian empati dalam lingkaran komuniti.

Desember juga menjadi kesempatan terakhir bagi produsen untuk mencuci stok gudangnya sebelum akhirnya tergilas oleh mode baru. Semua pusat perbelanjaan berkompetisi memberi diskon besar-besaran. Inilah salah satu 'setan' yang sering berhasil mengoyak keimanan berbelanja. Bonus akhir tahun rasanya sulit digenggam jika branded idolanya diguncang diskon hingga 70 %.

Desember benar-benar bulan penuh berkah dan masalah. Berkah karena ada bonus, penuh dengan diskon plus libur panjang. Masalah, karena di akhir tahun kita harus menjalani ritual evaluasi dan resolusi. Dua belas bulan dalam 360 hari ternyata berjalan begitu cepat. Banyak impian di tahun ini ternyata dibiarkan berlalu begitu saja. Inilah yang membuat kepala buntu, terburu-buru ujung-ujungnya menyesal membiarkan waktu cepat berlalu.

Permasalahan ini diperkeruh dengan resolusi tahun depan yang memenuhi isi kepala. Coba hitung berapa impian atau keinginan kita di tahun ini yang belum sempat kita lakukan. Aduuuuuuhhhh..... :( Namun impian tetaplah sebagai impian, jangan pernah ditinggalkan. Jika memungkinkan jadikanlah PR di tahun depan plus ditambah resolusi yang baru. Tetap semangat menggapainya meskipun tertunda. Jiiiaaaahhh...:)

Alangkah puasnya jika setiap tahun dalam kehidupan kita ada tahapan pasti sesuai harapan yang kita inginkan. Bukan keinginan orang lain, tapi keinginan kita. Bukan penilaian mereka, tapi kepuasan diri yang utama.

Desember memang bisa bikin klenger tapi juga bisa membuahkan semangat yang meluber. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya. Selamat menyambut Tahun Baru dengan semangat baru... Impian yang belum sempat kita kerjakan tahun ini jadikan PR di tahun mendatang.






gambar : darisini

Baca lanjutannya ya...>>>>>
17.12.11

Sebelas di Dua Belas

Diposting oleh diNa |



Sebelas... Semestinya PR ini dibuat di bulan sebelas dengan menjawab sebelas pertanyaan. Yaah, PR ini dikirim dari blogger Diah si penyuka warna biru yang selalu seru. Mungkin jawaban kedua belas yang paling tepat adalah permohonan maaf buat Diah karena baru sempat mengerjakan PR di bulan dua belas, namun yang penting masih di tahun dua ribu sebelas :) Nah ini dia jawaban PR-nya...

1. Kapan pertama kali kamu nyasar ke blog ini (blog Diah)?
Nyasar ke blognya Diah tepatnya lupa tapi rasanya sekitar 6 bulan yang lalu setelah sekian lama hiatus.
2
. Apa pendapat kamu tentang ngeblog?
Ngeblog bisa sebagai media untuk mengekspresikan diri, menumpahkan uneg-uneg atau mengulas hal-hal yang menggelitik. Dengan ngeblog rasanya kita punya dunia lain, di luar dunia keseharian kita. Gak ada intervensi dari siapa pun, ga harus jadi siapa pun dan apa pun, hanya jadi diri kita sendiri.
3. Kenapa kamu suka ngeblog?
Selain bisa mengekspresikan diri lewat tulisan, ngeblog juga menambah wawasan melalui blog walking, menambah teman dan bisa menambah uang saku (seperti yang terpampang di sebelah kanan tuuhh..). Syukur-syukur kalo tulisan kita bermanfaat buat orang lain, wuuuuiiihhh seneng banget..!!
4. Postingan apa yang paling kamu senangi dari blog saya ini?
Postingan tentang Sebelas. Karena di Sebelas ini Diah memilih saya sebagai salah satu blogger yang ketiban dapat PR, duuuuhh senengnya dapat apresiasi dari blogger si penyuka warna biru ini.
5. Apa yang ingin kamu raih saat ini?
Hmm.. banyak sebenarnya, tapi paling engga ada 3 hal yang penting. Apa? Aiihh... malu kalo diceritain disini. Nanti dibisikin aja yah... :)
6. Pernah kopdar? Ada cerita lucu dan berkesan saat kopdar?
Sebenarnya pengen banget. Mau kopdar gagal mulu :) Kopdar yuuukk...
7. Kalau boleh milih, kamu lebih suka menikmati alam dimana: gunung atau pantai?
Lebih suka pantai kayanya... soalnya ga harus mendaki, hahaha... Tapi pantai emang lebih sexy, apalagi kalo dinikmati pas sunset ditemani secangkir teh ato kopi plus semilir angin pantai... (silakan dibayangkan).
8. Ikut forum tentang blogger? Forum apa aja?
Yup ikut. Cuma IBN aja. Ada sih BBM group "Emak-emak Blogger", cuma ga membahas spesifik tentang blog, forum silaturahmi dan haha hihi aja..
9. Tahu Kendari? Sudah pernah ke Kendari kah?
Kendari? Yup tahu tapi belum pernah kesana... Diah mau undang blogger main-main kesana? Ditunggu yah... :)
10. Kota mana di Indonesia ini yang paling berkesan buat kamu?
Yogya kali ya... karena dari lahir sampe kuliah di sana sih.. Tapi Yogya menurut saya emang eksotis, unik dan ngangenin, jadi cocok buat liburan. Kalo buat cari uang kayanya Surabaya lebih pas. Kotanya lebih menjanjikan tapi masih bersahabat, kulinernya pun beragam.
11. Apa yang ada di kepala kamu jika melihat bintang?
Bintang berarti harapan. Ada harapan ga hujan, ada harapan bulan muncul menghiasi malam, pun bisa diartikan harapan buat meraih yang diinginkan.

Akhirnya selesai juga... Ada pendapat lain dari jawaban-jawaban saya?







gambar : darisini

Baca lanjutannya ya...>>>>>
20.11.11

Dunia Lain

Diposting oleh diNa |

Mungkin seperti ritme hidup sebagian besar ibu rumah tangga bekerja lainnya, ritme hidup saya pun tak jauh dari tahapan yang harus mereka jalani. Sholat Subuh, lanjut beberes kamar, nyiapin sarapan, nyiapin baju, mandi dan makan. Lanjut menaklukan jalan dari kemacetan, mencari solusi harus lewat jalur mana yang lebih lancar. Sering berhasil, namun tak jarang hasilnya nihil. Semua saya lakukan demi warna biru jam kerja yang harus diburu. Berat, tapi harus. Walau kadang banyak kendala, namun saya ikhlas demi si biru. Ada kepuasan tersendiri saat clock in kurang dari jam 08:00.

Satu persatu tantangan kerja coba saya jinakan. Kadang harus keluar kota, pun tak jarang harus lembur. Bagi saya menjinakan tantangan adalah suatu kenikmatan. Puas bisa totalitas. Berpikir sederhana bahwa kerja adalah amanah dan tanggung jawab. Bila melihat ke bawah, rasanya tak habis rasa syukur yang harus dipanjatkan. Alhamdulillah…

Kadang saat "jendela" terbuka, saya mencoba melongok ke kanan dan ke kiri melihat "dunia lain". Nafsu membara mendengar si A teman SMA mempunyai "mainan" baru di bidang kuliner. Si B teman kerja mempunyai showroom mobil bekas. Si C mengelola kost-kostan di sela waktunya sebagai karyawati. Si D seorang arsitek mempunyai homestay. Si E mempunyai bisnis sampingan buka butik batik. Dan si abjad lain pun mempunyai "mainan" yang beda pula.
Telisik demi telisik, konon bukan uang semata yang dikejar, karena secara kasat mata kalkulasi gaji bulanannya rasanya sudah jauh dari cukup. Belum lagi jika digabung dengan pendapatan dari pasangannya. Aktualisasi diri sesuai yang diingini menduduki prosentase terbesar mengapa mereka menjajaki dunia ini. Selain itu konon juga bisa sebagai penambah nutrisi energi tatkala menjalani profesi inti sebagai seorang karyawan atau karyawati.

Senang rasanya mendengar cerita teman-teman mengenai "dunia lain"-nya. Saya melihat kepuasan dan gairah yang luar biasa dari binaran cahaya matanya. Otak dipacu memikirkan dunia bermacam warna tak hanya satu warna. Menambah semangat dan gairah kerja. Ingin rasanya menjadi member mereka. Mendua. Melihat warna warni dunia. Namun mampukah saya mendua dalam fokus kerja?





Pic : dreamofstars.com




Baca lanjutannya ya...>>>>>
30.10.11

Ngopi : Ritual Seksi

Diposting oleh diNa |

Afternoon tea bagi kalangan atas merupakan salah satu ritual perjamuan agung. Artinya pasti tamu agung yang dijamu, entah itu atasan, mitra bisnis atau orang-orang yang dihormati. Afternoon tea biasanya dilakukan sekitar jam 15:00 – 17:00. Untuk kalangan bawah pasti merasa geli, mau minum teh saja harus nunggu sore hari.

Namun dibalik kemegahan teh yang telah mengisi celah mewah kelas atas seperti afternoon tea ternyata masih kalah populer dengan si hitam. Kopi telah mampu menembus batas kelas sosial. Apapun jenis kopinya, ngopi berhasil meraup fans secara fantastis. Ini dibuktikan gaya kongkow kopi dari sopir angkot, mahasiswa hingga kalangan jetset. Dari mulai kopi bubuk campur jagung, kopi Italiano style, kopi vietnam yang setiap tetesnya bikin gemes, hingga kopi luwak yang bikin kantong bengkak. Saya tidak akan berbicara soal rasa, karena saya bukan perasa kopi sejati, tapi saya sangat senang mendengar celoteh soal kopi.

Konon bubuk hitam ini mampu menenggelamkan persoalan hidup. Kopi juga bukan lagi pasangan hidup perokok sejati. Kopi mampu melakukan terobosan MLM (Multi Level Marketing), hebat..!! Komunitas ini terus bertambah jumlahnya. Contoh gampang adalah orang terdekat saya, suami. Ia bukanlah seorang perokok, walau kadang-kadang sekedar membantu rokok teman. Namun soal kopi nampaknya ia mulai kecanduan. Rasanya tiada hari tanpa ngopi, walaupun masih mampu membatasi jumlah cangkir dan kopi ringan yang dikonsumsinya. Bahkan ia adalah 'setan' bagi saya. Berkali-kali saya yang awalnya tidak suka kopi terus dijejali dan diprovokasi. Kini, saya bagian incip-er, setiap suami ngopi.

Berawal dari incip-er akhirnya saya mulai sedikit kerasukan. Roh kopi perlahan mampu merasuki jiwa saya. Tempat-tempat ngopi mulai saya kunjungi. Bukan mutlak mencari kopi, namun saya tertarik perilaku gaya hidup para penikmatnya. Gadget adalah bagian benda yang tidak pernah mereka tinggalkan. Sambil menyeruput kopi sebagian dari mereka ada yang serius membuka email atau membuat konsep namun ada pula yang sekedar membuka FB atau twitter lewat Ipad atau laptopnya. BlackBerry juga bagian terpenting dari ngopi, sambil ngobrol dan berkelakar, tangan-tangan terampil terus menekan keypad. Order kopi satu gelas, nongkrongnya ber-jam-jam :) Warung kopi dekat kantor yang setiap pagi saya lewati juga tak luput dari pengamatan saya. Sebelum jam kantor, di warung tersebut selalu ada sekelompok karyawan muda yang asyik ngobrol sambil nyeruput kopi, sebagian sambil merokok dan sebagian lagi sambil baca koran. Entah kenapa saya selalu tertarik melihat aktivitas mereka setiap kali lewat disitu. Kadang saya berpikir, topik apa ya yang sedang mereka obrolkan? :) Melihat nyamannya suasana rasanya ikut merasakan ayem, adem dan seneng.

Senikmat rasanya, saya juga mendapatkan kenikmatan tambahan melihat tingkah polah penggemar kopi. Ngopi, nampaknya telah mampu membunuh preasure pekerjaan atau problem hidup yang memenuhi relung kalbu. Ngopi juga mampu menyatukan pertemanan dalam kelakar dan canda di dalam satu meja entah itu cafe atau warung. Makanya ga heran kalau coffee shop di kota besar semakin menjamur, termasuk gerai kopi baru milik teman saya zizy :)


Ngopi memang seksi...




Pic : www.x-cafe.com



Baca lanjutannya ya...>>>>>
Subscribe