Beberapa tahun belakang ini banyak tumbuh tiang traffic light di kota saya. Kota ++ (baca:plus plus) demikian saya menyebutnya. Plus bersihnya, plus hijau taman kotanya, plus ketertiban lalu lintasnya termasuk plus panasnya juga, hehehe..
Tiang-tiang penyangga lampu merah, kuning dan hijau itu tidak nongol di perempatan atau pertigaan jalan seperti layaknya traffic light, tapi ada di jalan-jalan lurus. Mungkin aneh bagi yang belum paham fungsinya. Lampu ini adalah persembahan tertinggi untuk para penyeberang jalan. Di negeri-negeri tetangga lampu ini sudah sangat familiar. Ada yang otomatis nyalanya, namun di jalan-jalan tertentu perlu sentuhan tangan untuk membuat warna merah menyala terang. Begitu warna merah menyala, stop..!! semua kendaran berhenti kompak. Setelah itu penyeberang santai melintas tanpa takut ancaman kelompok slonong boy yang hobi nyrobot lampu merah.
Setiap berangkat ke kantor saya juga melewati beberapa traffic light khusus buat penyeberang ini. Entah belum paham, entah masuk dalam gank slonong boy, banyak pengendara yang tetap nylonong meskipun lampu merah telah menyala. Bagi yang sudah paham pasti dengan ikhlas akan berhenti memberi kesempatan kepada para penyeberang jalan yang sudah request untuk melintas. Tekan tombol, lampu merah menyala dan seharusnya zebra cross lengang oleh arus kendaraan. Seharusnya ada perasaan aman bagi penyeberang karena sudah melalui prosedur yang benar, namun ternyata tak jarang ada pengendara yang tetap berusaha menyelinap diantara penyeberang dan pengendara lain yang telah taat berhenti. Beberapa kali saya melihat penyeberang yang hampir tersambar kelompok slonong boy ini. Miris!
Saya sering sewot melihat kebiasaan kelompok slonong boy ini. Katanya kita bangsa yang ramah, berbudaya dan bertoleransi tinggi, gerutu saya dalam hati. Yang lebih menggemaskan lagi, pada saat berhenti karena lampu merah menyala tanda ada penyeberang yang akan melintas, suara bel di belakang berbunyi bersautan, diiinnn.. teettttt.. ngookkk.. padahal lampu hazard sudah dihidupkan. Tak jarang suara-suara itu keluar dari mobil-mobil mewah. Duuuuuuhhhh... Cape deh!
Kondisi ini akan semakin miris jika kita melihat penyeberang jalan yang akan melintas di tempat yang tidak dilengkapi dengan lampu penyeberangan. Mari teman, mari sahabat, mari kawan, mari sobat kita galakan berbagi untuk penyeberang. Mari kita kampanyekan berhenti demi penyeberang dan nyalakan lampu hazard sebagai simbol. Bagaimana?
sumber gbr : yingshun.co.uk
Langganan:
Komentar (Atom)
Follow me
About me
Popular Post
Recent Comments
Friends
Online
Visitors Since 29/1/09
Blog List
-
-
Trip Sejarah ke Kota Tua, Jakarta3 hari yang lalu
-
Menolak BOP: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah5 hari yang lalu
-
Kupang: Tiba Tak Terencana, Pulang Dengan Cerita1 bulan yang lalu
-
-
Rekomendasi Olahraga Untuk Menurunkan Berat Badan2 tahun yang lalu
-
Jalan – Jalan Jenius di Eropa6 tahun yang lalu
-
Hello !!!7 tahun yang lalu
-
Hallo10 tahun yang lalu
-
Tentang Undangan Terindah10 tahun yang lalu
-
New product in the “Chrysos” family10 tahun yang lalu
-
My blog list for backlink10 tahun yang lalu
-
Kepribadian Wanita Dilihat Dari Bentuk Bibirnya12 tahun yang lalu
-
Ada Apa di Pulau Penguin?12 tahun yang lalu
-
Muncul Lagi13 tahun yang lalu
-
ptp13 tahun yang lalu
-
SKSD kabeh!14 tahun yang lalu
-
Sekalinya posting, tetep ga penting :p14 tahun yang lalu
-
Teori Relativitas14 tahun yang lalu
-
KH Zainuddin MZ Wafat....14 tahun yang lalu
-
Pyramid Psikoanalisa14 tahun yang lalu
-
LELEHAN RINDU16 tahun yang lalu
-
we never even got a chance to say good bye16 tahun yang lalu
-
aksioma...17 tahun yang lalu
-
September already19 tahun yang lalu
-
-
-
-
-
-
-
-
