Enakan mana kerja pakai seragam atau baju bebas? Kayanya pakai seragam lebih enak ya.. yang jelas lebih irit, kelihatan kompak dan ga perlu mikir mode. Tapi tidak enaknya engga bisa nggaya dan engga bisa nyoba mode yang macem-macem. Sebenarnya fungsi utama baju untuk menutupi aurat dan menjaga tubuh dari segala cuaca. Tapi hari gini baju mempunyai fungsi lain, baju bisa untuk aktualisasi diri yang berujung gengsi. Penghormatan spontan bisa terjadi manakala tampilan belaka yang di kedepankan.
Mode memang menuntut perputaran cepat. Untuk itu kenapa sering kita jumpai seseorang yang dengan cepatnya beralih dari satu mode baju ke mode baju yang lainnya. Mengikuti mode berarti harus siap isi kantong tergerus. Fenomena ini mungkin yang memunculkan konsep mix & match. Tapi ternyata itupun tidak selalu menjadi solusi yang tepat.
Karib bahkan lebih luas lagi yang disebut gank, bahkan ada yang lebih luas lagi yang disebut komunitas adalah kondisi yang turut andil besar membentuk kita dalam berpenampilan. Lingkaran di dalamnya seperti lingkaran setan, maju kena mundur kena. Artinya kalau kita sudah kecemplung seperti teh celup, harus larut menyatu. Di luar baju, kebiasaan nongkrong di café mau tidak mau harus diikuti. Berapa kocek yang mengalir untuk secangkir kopi? Berapa kali sebulan dan dimana? Apakah cafe yang dituju ada fasilitas diskon dari kartu kredit atau tidak? Kalau gak ada diskon kocek akan semakin dalam terogoh. Belum makan malamnya loh.. Belum clubingnya loh.. Bukan itu saja, harus dihitung juga kita menjadi bagian dari berapa komunitas. Kalau satu komunitas aktif saja rajin mencetak debet di buku tabungan, bagaimana kalau banyak komunitas yang kita ikuti? Eksis emang menuntut branding diri di mana-mana.
Eksitensi dan akutualisasi memang perlu. Tekanan pekerjaan dan era dimana kita hidup turut menutut. Terlebih kalau kita masuk di dunia jasa, jaringan adalah media koneksitas berbagai macam orang dengan berbagai latar belakang. Jika mampu mempersatukan, ada titik terang urusan pekerjaan dan bisnis jadi lancar.
Kembali ke uraian di depan. Untuk menikmati status eksis di linkungan kerja saja kita sudah diporakporandakan urusan penampilan, apalagi harus menyadang status eksis di luar kantor, byuh byuh pusing mikirnya. Rasanya kita memang harus menggali potensi diri, syukur menjadi spesialis, sehingga eksis bukan hanya dari sektor penampilan dan haha hihi, tetapi dari prestasi. Rasa-rasanya cara ini emang paling murah, tapi harus dilakoni secara fokus dan serius. Bagaimana, mau eksis gaya yang mana?
Saya dan suami sudah bertahun-tahun mengarungi bahtera rumah tangga, namun sepertinya Tuhan belum berkenan memberikan kami 'penumpang'. Kami pun tanpa lelah terus berlayar mengarungi bahtera kehidupan. Susu, popok dan tangisan bocah untuk sementara diganti Tuhan dengan hari-hari penuh canda bersama suami.
Desember ini, saya ambil cuti 4 hari. Tapi karena ada long weekend, libur saya berkesan jadi panjang. Namun karena cuti baru di OK, suami pun bilang KO! "Bayangin, hari gini, peak season lagi, mau kemana kita?" ujar suami mencoba defense saat saya mengajaknya pergi agak jauh, syukur-syukur bisa memanfaatkan kartu sakti NPWP. Tapi boro-boro pakai NPWP, ke Bali atau Bandung saja kebanyakan hotel sudah fully booked. Inilah saatnya panen bidang transportasi dan akomodasi. Memang benar, cuti kudu dipikir jauh hari, supaya kita bisa memperkirakan tujuan dan budgetnya. Tapi apa daya tanggung jawab pekerjaan harus dijawab.
Setelah beradu argumentasi, tanpa tensi tinggi. Kami sepakat Jogja sebagai tujuan mufakat, walaupun seminggu yang lalu kami baru saja ke Jogja menghadiri pernikahan sepupu. Untuk memberi gimmick liburan, kami berencana mengajak Rangga, bocah laki-laki usia 6 tahun keponakan kami. Itu berarti kami harus nego ke kakak ipar. Walaupun libur resmi Rangga kurang sehari, tapi ijin orang tua sudah digenggam. Namun Rangga mensyaratkan khusus, ia mau bergabung kalau naik pesawat. Bocah multitalent ini memang punya keinginan terbang, karena kakak-kakaknya sudah pernah merasakannya. Kami pun mengiyakan permintaannya.
Sebagai pembelajaran, mulai memesan tiket, bocah klas 1 SD tadi kami ajak mengurusnya. Berbagai pertanyaan soal penerbangan dengan kemasan wajah sumringah terus mengucur. Terlebih saat tiket sudah ditangan, dan saya memintanya untuk membaca nama yang tertera. Suara khas bocah mengeja kalimat lantang terdengar: "Taranggana!!" Mulutnya yang lebar menyeringai memperlihatkan gigi-gigi susunya, senyum tulus inilah yang menghipnotis saya dan suami. Jujur, saya melihat keceriaannya. Seandainya hari-hari saya bisa melihat senyumannya, tentu tekanan pekerjaan tidak membuat saya lelah.
Pagi hari saat keberangkatan, seharusnya saya suka cita. Namun, cuaca di luar memberi pemandangan lain. Hujan deras dengan waktu tanpa batas. Jujur, ada rasa takut karena harus terbang dengan anak orang. Telpon rumah berdering, suara Rangga menanyakan jam jemputan. Hati pun semakin kuat berkat dorongan suami. Ketika sampai di rumahnya, Rangga dengan dandanan sporty-nya diantar papa dan mamanya. Mereka bahu-membahu memindahkan Rangga ke mobil dengan lindungan payung. Badannya sedikit basah, namun senyumnya tak pernah lepas.
Mandiin, nyuapi (meskipun sekarang sudah belajar makan sendiri), memberi vitamin, membuat susu, ngelonin tidur menjadi aktivitas rutin selama di Jogja. Belum lagi harus mengantar ke tempat bermain anak. Blas! Ga ada aktivitas wisata buat diri sendiri. Capek tapi asyik!
Hari pertama tiba-tiba Rangga jadi pendiam, tenggorokannya sakit katanya. Malam itu juga kami ke dokter anak. Kami tidak ingin liburan Rangga jadi terganggu. Belum lagi tiba-tiba giginya ada mau tanggal. Saya harus bisa meyakinkan bahwa itu adalah hal yang biasa. Untung Rangga anak yang gampang diberi pengertian, ga rewel. Rasanya tidak banyak anak seumur dia yang mempunyai tingkat pengertian seperti ini. Belum lagi dia dapat menciptakan kesibukan buat dirinya sendiri, menari gaya Jacko, menyanyi lagu-lagunya Nidji, bikin cerita boneka dengan menggunakan robot-robotnya, hmmm.. seandainya dia anak saya.. :) Seminggu ini benar-benar memberikan experience yang menyenangkan dan penuh tantangan. Ingin rasanya memperpanjang liburan.
Rangga… tunggu akhir tahun ya.. kita liburan bersama lagi.
Sebelum orang mengenal dan mengalami climate change alias perubahan musim, masyarakat Jawa sudah mengenal tata mangsa alias tatanan musim. Kakek dan nenek moyang telah mengajarkan ilmu ini secara turun-temurun. Secara logika, kita pun meyakini kebenarannya, mengingat waktu telah mengajarkannya lewat pengalaman.
Ilmu ini jelas sangat bermanfaat, mengingat mayoritas masyarakat Jawa adalah petani. Besar kecilnya curah hujan sangat berpengaruh terhadap jenis dan kualitas tanaman. Banyak sedikitnya air tanah tergantung dari kebutuhan masing-masing tanaman. Padi adalah 'unta'nya tanaman, sangat boros mengkonsumsi air, sehingga musim tanam harus disesuaikan saat musim hujan tiba. Sebaliknya, tanaman pangan jagoan dehidrasi adalah palawija yang sangat irit mengkonsumsi air. So, April alias mipril (curah hujan mulai sedikit, pral pril) saat tepat palawija berbicara. Sebaliknya, Desember alias gede-gedene sumber, dimana curah hujan sangat dasyat mengguyur bumi, adalah saat tepat padi bersemi.
Seperti halnya petani, para karyawan seperti saya juga berharap Desember benar-benar menjadi gede-gedene sumber. Berharap banyak bonus tahunan keluar. Kesempatan bisa mengisi sedikit pundi-pundi atau mewujudkan impian. Ini baru harapan loh.. tapi benar-benar diharapkan. Semoga didengar manajemen.
Namun, Desember alias gede-gedene sumber yang sebenarnya sudah menjadi kenyataan. Satu persatu amplop menghampiri meja kerja saya. Bukan amplop angpau, tapi undangan pernikahan! Inilah saatnya 'kewajiban' sosial datang, nyumbang time! Saatnya memberikan sedikit tali asih persaudaraan untuk para sahabat yang menikah. Desember memang gede-gedene sumber, entah sumber masuk, keluar atau masuk sebentar terus keluar lagi.., hehehe..
sumber gbr : cacee.com
Basic-nya, belanja adalah pemenuhan kebutuhan. Saat stress 'membumi', maka belanja bisa menjadi media killing time, bahkan media lari dari stress. Bagi kaum hawa, konon belanja adalah salah satu aktivitas yang menyenangkan. Mungkin banyak juga yang sampai addict alias mania. Apalagi diperkuat dengan faktor pendukung, seperti tumbu oleh tutup, penghasilan mumpuni dan syukur-syukur masih dapat support dari pasangan. Kelompok inilah yang seringkali harus update fashion dan biasa lari dari tekanan stress dengan cara belanja mall to mall. Memang, semakin bagus karir dan pendapatan, dampak stress juga semakin meningkat, sehingga dibutuhkan biaya 'psikologis' yang tidak sedikit.
Sebagai perempuan, meskipun saya suka jalan, namun semangat belanja saya biasa-biasa saja. Kadang rasa malas kambuh saat harus memilih, utamanya saat diburu oleh waktu. Bagi saya, memilih adalah aktivitas yang menguras dan memeras waktu, tenaga dan pikiran. Bukan perfect, tapi saya selalu berusaha menjadi diri saya sendiri. Saya terbiasa menentukan sebuah pilihan dari berbagai angle. Yang pertama so pasti soal model. Pilihan saya biasanya mengarah ke model yang simple, unik tapi tidak terlalu girly. Yang begini saya banget deh.. Syukur-syukur gampang di mix and match dengan yang sudah ada. Setelah itu baru melihat warna dan harga. Warna oke dan harga sepadan ga ada alasan untuk menunda. Tapi kalau melebihi budget harus pikir-pikir dulu, kecuali kalau barang itu membelenggu pikiran saya, ga ada kata lain selain bungkuuuusss…!! Makanya saya sebenarnya tidak begitu suka area pilihan yang terlalu banyak. Itu berarti akan semakin menambah kebingungan jari jemari dan mata saya.
Kalau disuruh memilih, saya lebih suka mengantar daripada diantar belanja. Dalam prosesi belanja saya paling suka kalau ditemani orang-orang yang paham dengan kebiasaan saya. Mengingat memilih adalah bagian tersulit. Tapi jangan kaget (meskipun sebenarnya saya juga kaget) walau sulit memilih, tapi lemari saya terasa seperti kapal barang yang sarat muatan. Rasanya tak ada space lagi untuk barang baru. Sering saya tertawa geli saat membongkar isi lemari, tak jarang saya menemukan hasil buruan belanja yang belum terpakai karena tertumpuk, dan akhirnya lupa. Bukan hanya baju bahkan sepatu. Kondisi ini semakin diperparah oleh kebiasaan saya yang seringkali memakai yang itu itu saja kalau sudah terlanjur cocok.
Saya jadi berpikir, saya yang tidak mania belanja saja masih sering menyisakan baju dan sepatu belum terpakai, bagaimana dengan teman-teman yang hobinya belanja? Coba bongkar lemari, jangan-jangan ketemu baju dengan ukuran tubuh dua tahun yang lalu?? Wakz!
Manusia memang tidak ada puasnya. Kadang kita lupa bersyukur dengan apa yang telah kita punya dan dapatkan. Saat masalah mendera, bumi serasa bergoncang memporakporandakan pikiran dan jiwa. Rasanya beban berat ber-ton-ton harus dipikul di pundak, sendirian! Tak jarang kondisi ini membuat frustasi datang menghampiri. Manusiawi. Mungkin kita pernah merasakan meskipun dengan kadarnya masing-masing. Namun, cobalah kita tengok lingkungan di sekeliling kita, mungkin beban yang harus kita hadapi ternyata tidaklah seberapa dibandingkan mereka.
Bulan lalu saya hadir di beberapa reuni yang menjadi bagian rutinitas aktivitas mudik. Menu utamanya adalah ceritera seru yang membuat tertawa ngakak bebas, melepaskan semua masalah yang menghimpit, saling ledek membongkar ceritera pilu penuh malu. Seperti layaknya tayangan di sebuah televisi, ceritera rahasia penuh malu dibongkar secara kelakar. Seperti ceramah umum, anak dan suami/istri serasa mendapatkan amunisi ceritera baru tentang ayah/ibunya di masa lalu.
Lepas seru-seruan selalu terselip ceritera pilu penuh haru. Satu persatu sahabat yang sedang mendapatkan ujian dari Allah terpapar secara panjang lebar. Ada yang sedang sakit, ada yang harus mulai merangkak lagi menegakkan ekonomi keluarga, ada pula yang sedang menghadapi riak-riak rumah tangga. Tragis, ingin menangis. Belum lagi melihat sahabat yang terlahir dari keluarga dengan ekonomi hebat namun tidak mampu memaksimalkan fasilitas untuk berkembang pesat. Ceritera keterpurukan ekonomi dan penyakit adalah bagian yang selalu menyesakkan dada. Seru-seruan saat reuni, berubah menjadi oleh-oleh rasa haru. Rasanya belum lama saat meninggalkan kebersamaan di sekolah dulu, perubahan hidup masing-masing bagaikan gangsing yang berputar dan menjadikan kita pusing.
Dibalik ceritera haru, ada juga ceritera membanggakan. Saat melihat sebagian dari sahabat yang dulu 'minus' sekarang menjadi famous. Yang dulu 'nothing' sekarang berdiri tegak dengan jabatan penting. Perjuangan hidup menjadikan dia layak untuk memetik hasilnya. Kadang beberapa teman terlihat jealous, mereka lupa karena tidak melihat jungkir baliknya selama ini. Pasti, sahabat-sahabat saya tadi adalah 'pejuang' nasib. Berjuang tanpa lelah dan berbuah keberhasilan.
Reuni bagi saya adalah obat kangen. Tertawa lepas untuk melepas tekanan kerja. Juga saat kita harus melihat jauuuuuhhh ke belakang. Melihat kembali kumpulan 'telur ayam' yang dierami bersama, 'menetas' juga hampir bersama, perhatian dari induk yang kurang lebih juga sama, namun perjuangan, doa dan garis tangan yang selalu menyertai kita hingga dewasa. Kalau melihat itu semua, tak henti-hentinya rasa syukur mengucur deras saya panjatkan ke hadiratNya. Di atas langit masih ada langit. Hidup memang harus sawang sinawang.
Beruntung ya Allah, kami mempunyai roda empat, terlindung, sejuk dan empuk. Namun ya Allah, hati semakin teriris, sekaligus bangga manakala melewati segerombolan pemudik beroda dua. Satu anak, bapak dan ibu plus tas pakaian. Bahkan bisa lebih, dua atau tiga anak bersama bapak dan ibu tercinta disangga dua roda. Tidak ada atap berteduh, tidak ada AC yang menyegarkan dan tidak ada jaminan perlindungan kemanan di jalan. Saluuuutt.., semangat tetap menyala dalam mempertahankan tali silaturahmi. Jarak bukanlah halangan, tapi bagian dari 'sebuah permainan’ yang harus ditaklukkan. Sepanjang lebih 300 km rasa syukur terus dipanjatkan dapat mudik lebih aman dan privasi. Lebih bersyukur lagi melihat kelompok roda dua terlihat sumingrah dibalik kaca helm-nya
Tugas mudik adalah menyelesaikan sisa puasa, Sholat Ied bersama keluarga, saling bermaafan, membantu ‘open house’ ibu dengan para tetangga, makan ketupat opor ayam bersama, dan berbagi. Tugas mudik yang bersifat privasi adalah belajar menahan tidak gelap mata. Rakus adalah musuh utama, mati-matian harus menjaga berat ideal side effect ibadah puasa sebulan penuh. 'Bonus' mudik inti isi kepala adalah reunian. Bertemu sahabat lama di SD, SMP, SMA dan kuliah tidak semua bisa terpenuhi, walau ada perasaan kuat ingin bertemu. Memilih adalah solusi agar terjadi keseimbangan antara kebutuhan keluarga, mertua, saudara balance dengan kebutuhan sosial. Tahun ini saya mencoba empati untuk seorang sahabat SMA yang sedang berjuang melawan kanker. Bersama teman-teman SMA berusaha menjadi penyemangat bahwa kanker harus dilawan dan ada Tuhan yang Maha Segalanya.
Ujung dari rangkaian mudik adalah bertemu teman kuliah. Memilih rumah teman yang asri dan luas dengan bangunan joglonya yang unik jadilah ajang ‘ngrumpi’ yang asik. Blaaass.. semua urusan kantor dan tetek bengek di Surabaya sirna. Seperti orang 'sakit' yang sembuh total tanpa harus berobat. Guyon dan cengengesan masih orisinil seperti dulu. Memori di kampus berhembus disambut gelak tawa tak ada habisnya. Bersyukur saya selalu dikelilingi sahabat yang menyenangkan. Guyon ngawur ngalor ngidul dalam rasa hormat kekeluargaan yang tinggi. Alhamdulillah, Mudik ber'Bonus' yang tak terhingga nikmatnya.

Selamat jalan Lebaran 1430 H, sampai jumpa tahun depan!

Saya memang tidak paham betul dunia blog. Tapi ada kemauan besar untuk memahami dunia ini. Dengan susah payah saya mencoba menikmati dunia ini. Beberapa buku dari rak toko buku saya pindah ke rumah. Bolak-balik halaman demi halaman saya kupas. Belajar dari situs tentang blog pun saya baca tuntas. Bingung adalah menu hari-hari pertama saya. Bukan hanya itu, puyeng juga jadi menu tambahan.
Saat template akhirnya tersaji, hati jadi terbuai serasa terbang tinggi. Jujur, ada perasaan bangga dapat menjinakkan template, walaupun masih dalam taraf yang sederhana. Perkara baru pun muncul, bagaimana caranya mengisi materi tulisan? Apa saja yang harus ditulis? Mosok hanya liputan kuliner? Mosok didominasi foto? Kalau menunya itu-itu saja pasti teman-teman yang 'bertamu' jadi malas untuk kembali mengetuk 'Jendela' ini. Ternyata menulis itu tidak mudah. Edisi menulis adalah zona blang-bleng-blong. Udah otaknya nge-blang, saat nulis semua rasanya ingin disajikan seperti rem yang blong. Ada yang bilang paling gampang ya nulis pengalaman. Tapi stok pengalaman yang menarik lama kelamaan pasti habis juga.
Jujur, blog walking banyak memberikan ilham baru bagi saya. Wangsit bisa dijimpit, tanpa harus komat kamit di tempat yang wingit. Benar-benar menyenangkan dapat bertamu untuk ngunduh ilmu.Ketakutan dan rasa gak pede sedikit demi sedikit mulai terkikis. Saya sudah merasa 'bangga' dengan bangunan 'Jendela' saya. Walau saya yakin seyakin-yakinnya bahwa bangunan tadi masih jauh dari ideal, jauh dari kenyamanan, tapi inilah media penyelamat saya untuk beraktualisasi.
Kini 'Jendela' saya sudah terbuka lebar. Saya siap menerima tamu-tamu yang datang menjelang. Saya juga semakin mencintai dunia baru saya: ngeblog! Perjalanan bertamu dari blog ke blog yang lain saya lakukan untuk menambah persahabatan baru. Namun kian hari saya kok merasa kian sepi ya.. Banyak blog yang kurang bergairah. Ada yang hiatus, ada yang lama gak update, bahkan tidak sedikit yang sudah meninggalkan dunia blog. Ada apa ini? Bosan? Mentok? atau tertarik meramaikan situs yang lain? Dengan segala keterbatasan saya sebagai blogger dan sebenarnya juga untuk menyemangati diri saya sendiri, saya hanya bisa menyampaikan pekik BTS: Bloger Tetap Semangaaaaaaaaaatttt!!
Status disini ga ada hubungannya dengan status di facebook. Status disini adalah label baru dari periode akil balik ke jenjang perkawinan. Label baru untuk jabatan baru, suami untuk kaum laki-laki dan isteri untuk kaum perempuan. Dengan catatan, perkawinan yang dilakukan adalah perkawinan normal.
Setelah MoU disaksikan penghulu atau sesuai dengan aturan agama yang lainnya, maka secara resmi banyak bagian hidup yang dipelajari sejak masa kanak-kanak hingga lajang dewasa menjadi banyak yang hilang. Bahkan menjadi kebiasaan baru yang harus dipelajari. Inilah serunya pengantin baru. Mungkin untuk periode kakek dan nenek juga bapak dan ibu kita dulu menjadi suatu kuajiban. Banyak norma yang 'mengharuskan' ini dan itu. Namun bisakah kondisi ini diterapkan pada masa sekarang?
Nah inilah sesuatu yang seru dan baru. Ternyata tidak semua pihak mampu menjalani status baru seperti jaman dulu. Bisakah para isteri yang sedang menanjak karirnya harus stop bekerja untuk mengurus anak dan rumah tangga? Bisakah para isteri yang pernah menikmati indahnya 'kemapanan' ekonomi harus sedikit terseok-seok karena adaptasi dengan kondisi ekonomi pasangan tanpa berbuat sesuatu? Bisakah para suami meninggalkan hobinya demi keluarga? Bisakah para pria keluar dari gang-nya hanya karena status barunya? Jaman modern ini bisa jadi agak longgar. Banyak faktor yang mempengaruhi, utamanya gaya hidup, tuntutan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga atau sekedar aktualisasi diri, atau mungkin juga karena pengaruh lingkungan.
Namun apapun bentuk kelonggaran pada masa kini tetap masih banyak kebebasan yang hilang setelah hidup dalam perkawinan. Mampukah kita saling menjaga agar hak-hak itu tetap mendapat tempat sehingga tidak ada lagi keluhan 'keterbatasan' karena sudah menyandang status baru dalam perkawinan?
Semoga 17 Agustus menjadi moment yang tepat bagi kita untuk mereview kebersamaan kita dengan pasangan. Utamanya hak-hak untuk mendapat kebahagiaan hidup, bergaul, beraktualisasi dalam koridor komitmen bersama dan agama.
Sudahkah Anda menikmati kemerdekaan dalam status perkawinan Anda?
Tiba-tiba saya jadi ingat pendapat salah seorang teman saya setahun yang lalu. Katanya saya ini mempunyai kecenderungan melankoli - koleris. Itu artinya saya orang yang teratur, rapi, terjadwal dan harus sesuai dengan fakta, tegas sekaligus goal oriented. Bukannya saya suka dengan penilaian ini tapi malah ngeri! Bagaimana tidak? Saya membayangkan diri saya dalam tekanan, terstruktur, ga nyantai dan kurang 'nakal' (jangan artikan yang macem-macem ya..).
Penilaian teman saya ini memang ga sepenuhnya benar karena dia hanya melihat dari luarnya saja dan tidak mendalam. Sebaliknya saya merasa justru watak phlegmatis saya lebih dominan daripada koleris. Seharusnya pola watak ini ditentukan dari pengisian kuesioner kemudian dihitung scorenya baru akan ketahuan watak mana yang dominan. Sebenarnya saya penasaran sekali dengan penentuan watak ini, sayang sekali sampai sekarang saya belum menemukan bukunya.
Idealnya sih kita mempunyai 4 jenis watak. Namun meskipun begitu, pasti ada watak yang menonjol. Apakah itu Si Sanguinis "Yang Populer", karena cenderung ingin populer, senang bicara, namun cenderung berpikir pendek. Si Melankoli "Yang Sempurna", karena serba teratur, rapi, umumnya suka dengan fakta-fakta dan berpikir secara mendalam. Ada juga Tipe Koleris "Yang Kuat". Tipe ini katanya suka tantangan, goal oriented, tegas, kuat, cepat dan tak mudah menyerah. Sedangkan tipe ke-4 yaitu si Phlegmatis "Yang cinta Damai". Tipe yang cenderung ga suka konflik, pendengar yang baik, tapi kurang bersemangat dan cenderung pendiam.
Meskipun belum sepenuhnya benar karena saya belum mengisi sendiri kuesionernya, tapi penilaian teman saya cukup menggelitik dan bikin saya jadi berpikir. Bukan hanya berpikir tentang diri saya tetapi juga orang di sekeliling saya. Hmm.. saya harus mengurangi melankoli dan koleris saya (meskipun saya merasa koleris saya tidak dominan), tambahin sedikit sanguin dan phlegmatis, pas deh.. (kaya masakan aja). Rasanya memang penting untuk mengerti watak kita. Paling engga setelah ada 'penilaian' dasar dari teman saya itu kini saya berusaha mengurangi kecenderungan saya yang melankoli dan koleris, supaya bisa lebih santai, ga terlalu mikir, biar bisa agak urakan dan ga stress kalau hasil tidak sesuai harapan. People Change!
Bukan hanya buat diri kita, tapi kita juga perlu tahu sifat partner kita, anak kita, teman, team kita sehingga hubungan interpersonal menjadi semakin mulus. Kita jadi semakin tahu kenapa ada perbedaan reaksi antara satu orang dengan orang lainnya. Ujung-ujungnya kita jadi dapat lebih memahami teman, anak, bahkan pasangan kita. Sedaaapp...
Semuanya mulai dari kita. Kenali diri kita yang sebenarnya. Sudahkah?
sumber : Personality Plus oleh Nina Iqbal
Banyak sekali media jejaring sosial di lingkungan kita. Mulai dari arisan, kumpul trah, bani, reuni, friendster dan kini yang lagi ngetop adalah Facebook (FB). Jejaring sosial ini mewabah dasyat bak virus. Media ini mampu melintasi batas usia, sosial dan budaya. Bisa jadi karena fasilitas penyokongnya kian canggih dan perangkatnya mobile. Serba mudah dan serba praktis yang menjadikan jejaring sosial ini semakin melejit. Mungkin juga karena ditambah stress yang semakin rajin menghampiri kita sehari-hari sehingga kita membutuhkan teman banyak dan teman lama untuk berbagi. Kini, dimanapun dan kapan pun orang-orang bisa cengengesan, sambil utak utik ponsel gendutnya (haram menyebutkan brand-nya, hehehe..).
Saya lebih condong gara-gara kehadiran ponsel gendut inilah kalangan tanpa batas, utamanya kelompok atas dengan koleksi usianya ikut-ikutan meramaikan kegemaran yang dulu 'hanya' milik kaum muda. Beda dengan jaman Friendster dulu, rasanya hanya perangkat laptop yang paling mobile, sehingga untuk bermain-main dengan jejaring sosial ini baru bisa terlaksana jika ada komputer atau laptop di dekatnya.
Banyak hal baru dalam hidup kita, FB bak 'Komnas HAM' yang mampu menemukan orang-orang terdekat kita yang hilang karena minimnya media komunikasi saat itu. Banyak zona kehidupan terkuak tergantung dimana zona kita dulu berada. Jujur, akhir-akhir ini saya agak sering membuka FB, apalagi setelah teman-teman kuliah muncul satu persatu. Saling sahut, olok, sindir, utamanya saat cerita lama ter-upload dan menjadi bagian pengalihan stress pekerjaan.
Ada keceriaan berbaur geli yang kini menjadi santapan sehari-hari manakala saya baca status demi status empunya FB. Saya sadar banyak yang slengekan, namun tidak sedikit yang menuliskan serius tapi bikin saya geli. Ada yang menulis aktivitas minum kopi di cafe lengkap dengan suara sruput-sruputnya. Belum lagi ada yang update statusnya hanya karena kebingungan mau makan siang apa atau engga bisa tidur gara-gara pilek dan masih banyak lagi yang bikin saya senyam-senyum menahan geli. Bahkan ada juga yang menuliskan tentang suara hatinya, "Hari ini ayah pulang gak ya?"atau "Miss u Papa", ada juga yang sedang korslet dengan pasangannya perasaan muaknya terlontar di status tanpa sadar. Masih banyak lagi masalah-masalah yang sifatnya pribadi meluas menjadi santapan orang banyak.
Saya jadi bepikir, ternyata masyarakat kita banyak juga yang ekstrovert ya.. atau gara-gara FB kita jadi extrovert? Rasanya yang ada di pikiran pengen semuanya dituangkan. Tapi sadarkah kita kalau apa yang kita tulisakan bisa dibaca oleh seabrek orang?
sumber gbr : matunes.com
Beberapa tahun belakang ini banyak tumbuh tiang traffic light di kota saya. Kota ++ (baca:plus plus) demikian saya menyebutnya. Plus bersihnya, plus hijau taman kotanya, plus ketertiban lalu lintasnya termasuk plus panasnya juga, hehehe..
Tiang-tiang penyangga lampu merah, kuning dan hijau itu tidak nongol di perempatan atau pertigaan jalan seperti layaknya traffic light, tapi ada di jalan-jalan lurus. Mungkin aneh bagi yang belum paham fungsinya. Lampu ini adalah persembahan tertinggi untuk para penyeberang jalan. Di negeri-negeri tetangga lampu ini sudah sangat familiar. Ada yang otomatis nyalanya, namun di jalan-jalan tertentu perlu sentuhan tangan untuk membuat warna merah menyala terang. Begitu warna merah menyala, stop..!! semua kendaran berhenti kompak. Setelah itu penyeberang santai melintas tanpa takut ancaman kelompok slonong boy yang hobi nyrobot lampu merah.
Setiap berangkat ke kantor saya juga melewati beberapa traffic light khusus buat penyeberang ini. Entah belum paham, entah masuk dalam gank slonong boy, banyak pengendara yang tetap nylonong meskipun lampu merah telah menyala. Bagi yang sudah paham pasti dengan ikhlas akan berhenti memberi kesempatan kepada para penyeberang jalan yang sudah request untuk melintas. Tekan tombol, lampu merah menyala dan seharusnya zebra cross lengang oleh arus kendaraan. Seharusnya ada perasaan aman bagi penyeberang karena sudah melalui prosedur yang benar, namun ternyata tak jarang ada pengendara yang tetap berusaha menyelinap diantara penyeberang dan pengendara lain yang telah taat berhenti. Beberapa kali saya melihat penyeberang yang hampir tersambar kelompok slonong boy ini. Miris!
Saya sering sewot melihat kebiasaan kelompok slonong boy ini. Katanya kita bangsa yang ramah, berbudaya dan bertoleransi tinggi, gerutu saya dalam hati. Yang lebih menggemaskan lagi, pada saat berhenti karena lampu merah menyala tanda ada penyeberang yang akan melintas, suara bel di belakang berbunyi bersautan, diiinnn.. teettttt.. ngookkk.. padahal lampu hazard sudah dihidupkan. Tak jarang suara-suara itu keluar dari mobil-mobil mewah. Duuuuuuhhhh... Cape deh!
Kondisi ini akan semakin miris jika kita melihat penyeberang jalan yang akan melintas di tempat yang tidak dilengkapi dengan lampu penyeberangan. Mari teman, mari sahabat, mari kawan, mari sobat kita galakan berbagi untuk penyeberang. Mari kita kampanyekan berhenti demi penyeberang dan nyalakan lampu hazard sebagai simbol. Bagaimana?
sumber gbr : yingshun.co.uk
About me
Blog List
-
Tuan Putri yang Angkuh20 jam yang lalu
-
Hati-Hati Naik Motor Sambil Merokok…!!!1 hari yang lalu
-
Mimpi Retrira Hampir Terwujud..1 hari yang lalu
-
-
tentang amprokan blogger2 hari yang lalu
-
Hilarious Moments with the Bule3 hari yang lalu
-
kamu3 hari yang lalu
-
ORANG TUA...5 hari yang lalu
-
Internet Celebrities 20105 hari yang lalu
-
-
-
Chemistry Cinta.. Cieeeeeeeee :p2 minggu yang lalu
-
Bunyi lain3 minggu yang lalu
-
collapse4 minggu yang lalu
-
Mukadimah4 minggu yang lalu
-
happy new year5 minggu yang lalu
-
Alhamdulillah1 bulan yang lalu
-
Talk Less, Do More1 bulan yang lalu
-
LELEHAN RINDU2 bulan yang lalu
-
Untung ada Paypal3 bulan yang lalu
-
Cerita Kopdar3 bulan yang lalu
-
between me and my job3 bulan yang lalu
-
Just like the old days...4 bulan yang lalu
-
Bantal Bulu Angsa5 bulan yang lalu
-
-
Nggak Jadi Pindah Euyyy....7 bulan yang lalu
-
we never even got a chance to say good bye8 bulan yang lalu
-
Sedih9 bulan yang lalu
-
From My Husband10 bulan yang lalu
-
Mohon Maaf1 tahun yang lalu
-
aksioma...1 tahun yang lalu
-
September already3 tahun yang lalu
-




