Banyak sekali media jejaring sosial di lingkungan kita. Mulai dari arisan, kumpul trah, bani, reuni, friendster dan kini yang lagi ngetop adalah Facebook (FB). Jejaring sosial ini mewabah dasyat bak virus. Media ini mampu melintasi batas usia, sosial dan budaya. Bisa jadi karena fasilitas penyokongnya kian canggih dan perangkatnya mobile. Serba mudah dan serba praktis yang menjadikan jejaring sosial ini semakin melejit. Mungkin juga karena ditambah stress yang semakin rajin menghampiri kita sehari-hari sehingga kita membutuhkan teman banyak dan teman lama untuk berbagi. Kini, dimanapun dan kapan pun orang-orang bisa cengengesan, sambil utak utik ponsel gendutnya (haram menyebutkan brand-nya, hehehe..).
Saya lebih condong gara-gara kehadiran ponsel gendut inilah kalangan tanpa batas, utamanya kelompok atas dengan koleksi usianya ikut-ikutan meramaikan kegemaran yang dulu 'hanya' milik kaum muda. Beda dengan jaman Friendster dulu, rasanya hanya perangkat laptop yang paling mobile, sehingga untuk bermain-main dengan jejaring sosial ini baru bisa terlaksana jika ada komputer atau laptop di dekatnya.
Banyak hal baru dalam hidup kita, FB bak 'Komnas HAM' yang mampu menemukan orang-orang terdekat kita yang hilang karena minimnya media komunikasi saat itu. Banyak zona kehidupan terkuak tergantung dimana zona kita dulu berada. Jujur, akhir-akhir ini saya agak sering membuka FB, apalagi setelah teman-teman kuliah muncul satu persatu. Saling sahut, olok, sindir, utamanya saat cerita lama ter-upload dan menjadi bagian pengalihan stress pekerjaan.
Ada keceriaan berbaur geli yang kini menjadi santapan sehari-hari manakala saya baca status demi status empunya FB. Saya sadar banyak yang slengekan, namun tidak sedikit yang menuliskan serius tapi bikin saya geli. Ada yang menulis aktivitas minum kopi di cafe lengkap dengan suara sruput-sruputnya. Belum lagi ada yang update statusnya hanya karena kebingungan mau makan siang apa atau engga bisa tidur gara-gara pilek dan masih banyak lagi yang bikin saya senyam-senyum menahan geli. Bahkan ada juga yang menuliskan tentang suara hatinya, "Hari ini ayah pulang gak ya?"atau "Miss u Papa", ada juga yang sedang korslet dengan pasangannya perasaan muaknya terlontar di status tanpa sadar. Masih banyak lagi masalah-masalah yang sifatnya pribadi meluas menjadi santapan orang banyak.
Saya jadi bepikir, ternyata masyarakat kita banyak juga yang ekstrovert ya.. atau gara-gara FB kita jadi extrovert? Rasanya yang ada di pikiran pengen semuanya dituangkan. Tapi sadarkah kita kalau apa yang kita tulisakan bisa dibaca oleh seabrek orang?
sumber gbr : matunes.com
Beberapa tahun belakang ini banyak tumbuh tiang traffic light di kota saya. Kota ++ (baca:plus plus) demikian saya menyebutnya. Plus bersihnya, plus hijau taman kotanya, plus ketertiban lalu lintasnya termasuk plus panasnya juga, hehehe..
Tiang-tiang penyangga lampu merah, kuning dan hijau itu tidak nongol di perempatan atau pertigaan jalan seperti layaknya traffic light, tapi ada di jalan-jalan lurus. Mungkin aneh bagi yang belum paham fungsinya. Lampu ini adalah persembahan tertinggi untuk para penyeberang jalan. Di negeri-negeri tetangga lampu ini sudah sangat familiar. Ada yang otomatis nyalanya, namun di jalan-jalan tertentu perlu sentuhan tangan untuk membuat warna merah menyala terang. Begitu warna merah menyala, stop..!! semua kendaran berhenti kompak. Setelah itu penyeberang santai melintas tanpa takut ancaman kelompok slonong boy yang hobi nyrobot lampu merah.
Setiap berangkat ke kantor saya juga melewati beberapa traffic light khusus buat penyeberang ini. Entah belum paham, entah masuk dalam gank slonong boy, banyak pengendara yang tetap nylonong meskipun lampu merah telah menyala. Bagi yang sudah paham pasti dengan ikhlas akan berhenti memberi kesempatan kepada para penyeberang jalan yang sudah request untuk melintas. Tekan tombol, lampu merah menyala dan seharusnya zebra cross lengang oleh arus kendaraan. Seharusnya ada perasaan aman bagi penyeberang karena sudah melalui prosedur yang benar, namun ternyata tak jarang ada pengendara yang tetap berusaha menyelinap diantara penyeberang dan pengendara lain yang telah taat berhenti. Beberapa kali saya melihat penyeberang yang hampir tersambar kelompok slonong boy ini. Miris!
Saya sering sewot melihat kebiasaan kelompok slonong boy ini. Katanya kita bangsa yang ramah, berbudaya dan bertoleransi tinggi, gerutu saya dalam hati. Yang lebih menggemaskan lagi, pada saat berhenti karena lampu merah menyala tanda ada penyeberang yang akan melintas, suara bel di belakang berbunyi bersautan, diiinnn.. teettttt.. ngookkk.. padahal lampu hazard sudah dihidupkan. Tak jarang suara-suara itu keluar dari mobil-mobil mewah. Duuuuuuhhhh... Cape deh!
Kondisi ini akan semakin miris jika kita melihat penyeberang jalan yang akan melintas di tempat yang tidak dilengkapi dengan lampu penyeberangan. Mari teman, mari sahabat, mari kawan, mari sobat kita galakan berbagi untuk penyeberang. Mari kita kampanyekan berhenti demi penyeberang dan nyalakan lampu hazard sebagai simbol. Bagaimana?
sumber gbr : yingshun.co.uk
Ada seabrek istilah pertemanan. Ada yang menyebut dengan istilah sahabat, teman akrab, karib, konco plek, dan masih ada seabrek istilah lainnya. Tapi pernah dengar ga istilah TR alias Teman Rahasia?
Saya menemukan istilah asing ini saat ngobrol dengan seorang teman. Saat teman saya menggunakan istilah TR, kepala saya langsung berpikir ingin menemukan definisi yang pas. Saya mencoba dan mengkaitkan dengan TTM alias Teman Tapi Mesra. Pikir saya, karena ada istilah rahasia, pasti ada bagian perselingkuhan di dalamnya. Kalau fisik, mungkin terlalu ekstrim, minim ada hati yang dishare di sini. Namun, semua definisi saya yang mengarah ke arah perselingkuhan direject olehnya. Saya pun jadi penasaran untuk mendengar lebih jauh kuliah terbuka soal TR. Menurutnya, secara singkat TR bukan TTM, pacar, apalagi selingkuhan. TR, bukan itu semuanya, tapi Teman Rahasia!!!!
Menurutnya, kadang kita perlu punya Teman Rahasia. Teman yang ga perlu tahu siapa diri kita sepenuhnya, termasuk jejaring di lingkungan sehari-hari. Latar belakang kita benar-benar terjaga secara rahasia alias akses kesana tertutup rapat. Dengan jaminan ini, di satu sisi aman, tetapi di sisi lain kita bisa berperan bebas. Peran apapun dapat kita mainkan di sini.
Nah, soal partner atau calon teman rahasia dapat diseleksi dari awal. Biasanya dari berbagai pertemanan yang terjalin akan ditemukan chemistry. Banyak faktor yang melatarbelakangi di sini, antara lain soal kesamaan visi, gaya berbicara saat menyampaikan pendapat dan latar belakang yang kurang lebih sama. Di sinilah seninya memilih Teman Rahasia.
Sekitar kita memang berlaku aturan dengan balutan kultur yang kuat. Bagi yang sudah berkeluarga maka banyak barrier yang akan menyertainya. Pasangan hidup adalah segala-galanya, namun ternyata tetap ada satu dua celah kebutuhan untuk teman, keluarga atau yang lain untuk mengisinya. Bisa positif dalam arti tidak melukai arti perkawinan, namun bisa juga negatif yang akan berpengaruh terhadap nilai-nilai perkawinan. Pasti semua setuju untuk memilih yang positif.
Nah, seperti teman saya, maka ia memilih teman untuk berbagi. Teman yang BUKAN untuk mencurahkan hasrat. Teman yang mungkin bisa membangun semangat yang sedang pulas. Teman yang mampu membobol tembok saat terbelenggu masalah besar. Teman yang 'mengerti' perasaan kita, namun bukan teman yang ingin mengetahui siapa kita. Teman tadi adalah Teman Rahasia. Bagaimana mendapatkannya? Sepertinya dunia maya adalah dunia dimana para Teman Rahasia hidup dan berada.
Saya jadi bertanya, bisakah Teman Rahasia ada di dunia nyata?
Masih dalam hitungan jari kehadiran saya ke panti. Dulu pernah beberapa kali menemani keponakan ulang tahun, bagian panjang perjalanan hidup, yaitu pengenalan anak untuk saling berbagi. Bagi keponakan saya yang masih cetek dalam berpikir, mungkin hanya hari ulang tahunnya yang menyenangkan dan ketemu teman-teman sebaya, titik! Bagi saya tentu menjadi lain, terlebih setelah married. Persoalan panti adalah persoalan hati.
Pernah saya berkunjung ke sebuah panti. Saat itu suasana batin saya memang sedang gundah setelah kembali harus menerima kenyataaan pahit ketidakberhasilan program bayi tabung yang saya ikuti. Saya mencoba mendekat. Saya mencoba membaur. Namun saya merasakan sinar mata para bocah di panti tersebut adalah sebuah gambaran hidup yang gelisah. Saya menangkap aura amarah dan dendam. Bahkan kunjungan ke panti lain auranya hampir sama. Saya menemukan kasus ketidaksiapan orang tua menjadi ibu atau bapak yang baik. Seharusnya bayi dalam kehangatan rahim dan nutrisi, namun ternyata banyak batin calon ibu yang menolaknya, bahkan tidak sedikit yang ingin 'memusnahkan' melaui bahan-bahan kimia.
Saat saya berkunjung ke panti lain saya menemukan bangunan sederhana jika dibandingkan dengan tempat lain yang pernah saya kunjungi. Ketika kaki saya melangkah, suara anak perempuan dengan keluguan menyeruak dalam kesepian. "Ada tamu, ada tamu". Lalu, seorang bapak pengurus panti keluar menyambut saya. Seperti dalam pertempuran, saya pun 'disergap' dalam kamar tamu oleh 'malaikat-malaikat kecil' plus para pengasuh. Bocah cantik berusia 3 tahun tadi lalu menempel dan tanpa rasa takut duduk memecah space diantara saya dan suami. Cerita tentang bocah itu membuat hati saya trenyuh, namun saya tidak melihat sinar duka, amarah atau dendam di matanya. Mungkin kehangatan di panti itu telah mengembalikan keceriaannya, memusnahkan masa lalunya. Sungguh cantik, ceria, friendly dan hangat.
Ceritera bocah di panti rasanya jutaan versi. Ada yang karena ketidaksiapan orang tua untuk menghadirkannya ke bumi atau alasan lainnya yang dianggap mendesak (menurut mereka). Beruntung banyak panti menjadi jujugan untuk berbagi. Saya pun hanya bisa protes dalam hati jika keadaan saya dan suami yang belum punya momongan dipandang 'belum dipercaya' oleh sebagian orang. Trus bagaimana dengan mereka yang dianggap 'dipercaya' tetapi tidak bertanggung jawab dan menterlantarkannya? Bagaimana juga yang hanya bisa berbuat tetapi tidak merawat, bahkan dikaryakan demi ego orang tua untuk urusan ekonomi meminta-minta di jalan-jalan ibu kota?
Selain 'belum dipercaya' adakah kata lain yg lebih pas di telinga?
21 April hari apa? Hari Selasa!
Benar, 21 April adalah hari selasa. Namun yang paling penting, tanggal itu merupakan tonggak kebangkitan kaum perempuan. Ya.. Hari Kartini! Putri Indonesia yang mempunyai cita-cita besar bagi bangsa Indonesia. Beliau adalah putri sejati, harum namanya.
Penghargaan di atas adalah buah kerja kerasnya. Buah kepeduliaannya. Juga buah ketulusan untuk memajukan kaum perempuan bangsanya. Bayangkan, tahun segitu sebagai anak bupati bisa saja Kartini menjadi bagian seleb di jamannya. Tapi kenapa Kartini malah justru menjauh dari aroma kebangsawanan? Enak kan pesta-pesta atau memilih gaya hidup kalangan bangsawan yang Londois, glamour dan berdansa-dansi. Nyatanya, Kartini malah memilih aroma jelata.
Perempuan kala itu dinomorduakan. Ini bukan nomor urut partai atau caleg. Ini adalah nomor status, dimana keberadaan perempuan dibelenggu oleh norma. Perempuan adalah konco wingking. Benar-benar martabat perempuan tidak dimuliakan. Perempuan hanyalah pelengkap hidup lelaki. Derajat lelaki meroket bukan karena prestasi semata. Derajat lelaki meroket karena tidak ada lawan sepadan. Laki-laki benar-benar dinomor wahid dan menjadi segala-galanya.
Dobragan Kartini tentu tidaklah mudah. Bak air menetes, itulah yang dilakukan untuk melobangi batu kali yang keras sekali. Ketekunan tetesan air mampu merusak lapisan keras. Kekuatan Kartini semakin menguat saat ia mampu membangun networking. Pak J.H. Abendanon salah satu sahabat Kartini menjadi bagian terpenting dalam networking itu. Londo yang ngenDonesia ini mampu menjadi corong pemikiran Kartini tentang kaum perempuan Indonesia. Lewat kumpulan pemikiran "Habis Gelap Terbitlah Terang", mata laki-laki dan mata dunia menjadi terbuka.
Kini laki-laki juga harus berterima kasih kepada Kartini, bukan hanya kaum perempuan. Bayangkan, kalau perempuan masih dibelenggu, perempuan masih menjadi konco wingking, sementara dunia mengalami gonjang-ganjing resesi ekonomi berkali-kali. Laki-laki (kalau tidak jaim) pasti akan mengatakan "Terima kasih Perempuan, isteriku tersayang, gajimu menyelamatkan cash flow rumah tangga kita dari resesi”. Bahkan ada yang lebih ekstrim, "Kalau tidak ada perempuan yang menjadi isteriku, gulungan tikar sudah menggantikan hamparan karpet di rumah, alias bangkrut!" Mengapa demikian? Karena banyak kalangan lelaki yang sudah mendahului terkena PHK.
Akhirnya sebagai perempuan saya hanya bisa menyesal, mengapa di jaman Kartini belum ada internet? Seandainya saat itu sudah ada teknologi canggih ini, Beliau dapat ngeblog menyampaikan isi kepala dan hatinya melalui dunia maya yang bisa dibaca oleh berjuta-juta kaum perempuan, sehingga perubahan bisa cepat berlangsung. Saya yakin blog beliau pasti akan menjadi jujugan dan panen award karena materinya yang dasyat dan briliant.
Berkat Kartini, kaum perempuan menjadi semaju saat ini. Para suami banyak terbantu oleh para istri, apalagi saat resesi bertubi-tubi. Kartini bukan hanya milik perempuan, namun juga berjasa untuk kamu lelaki.

Baca lanjutannya ya...>>>>>


"Terima kasih kepada Rheeaz, orang tua yang selalu mendukung kegiatan saya, suami, keluarga besar, teman-teman, penggemar saya, pers dan orang-orang yang sangat berarti bagi saya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.. Tanpa mereka saya bukanlah apa-apa.."
Wadaaaaww..!! bener-bener serasa barusan naik panggung dan menerima award! :) Tengkyu Rheeaz yang udah ngasih awards tiga buah sekaligus dan ga pake PR lagi.. Wuuuiihhh jarang loh yang begini ini :) Pas terima awards ini agak deg deg-an juga, kuatir kalau harus ngerjain PR. Bukan apa-apa, PR-nya sih mudah, tapi jawabannya yang susah.. hehehe..
Award ini akan saya dedikasikan buat Sasa yang blog mungilnya selalu mengundang untuk datang.. datang.. dan datang lagi, Quinie dan Mr Psycho yang kapan hari dengan sukarela bantu 'bersih-bersih' blog saya, mbak Rinda yang asik diajak ngobrol meskipun belum pernah ketemu dan Mama GaYa si teman curhat :)
Moga-moga belum pernah dapat awards serupa ya.. Silakan ambil pakai karung karena tiga-tiganya boleh dibawa pulang. Jangan lupa dipasang di rumah masing-masing dan semoga semakin semangat ngeblog.
- Dua minggu ini template blog saya berubah lebih segar. Sebagai blogger pemula rasanya seneng banget bisa sukses ganti template (blog saya sempat jadi berantakan gara-gara ganti template). Kebetuan juga saya dapat template yang bagus (setidaknya menurut saya). Moga-moga nantinya saya bisa bikin template sendiri sesuai keinginan (bisa ga ya?? khayal deh kayanya, hehehe..)
- Gara-gara makan bebek songkem di Sampang Madura jadi ngetop deh.. Waktu itu kebetulan saya dan temen dinas ke Madura. Pas makan siang kami putuskan makan di Bebek Songkem yang kabarnya top markotop. Lagi asik-asiknya makan, ada reporter TV yang mengambil gambar aktivitas makan disitu, dan yang diambil gambarnya adalah saya! Sebenarnya mas reporter juga sempet nawarin wawancara, tapi saya ga mau, maluuuu… Baru-baru ini gambar itu tayang di beberapa TV, rupanya mas repoter itu menjual warta kuliner ini di beberapa stasiun TV. Jadi setiap kali tayang di stasiun TV banyak temen-temen yang SMS, lumayanlah jadi sedikit ngetop, hehehe..
- Musim F1 tiba. Berarti ini saatnya hubby ga bisa diganggu. Itu berarti juga weekend agak sedikit terganggu. Kenapa ya laki-laki ga bisa dipisahkan dari hobinya?
- Sup kepala ikan. Asem, pedes dan segaaaarr.. Hmmm.. ini makanan favorit baru. Kebetulan ga jauh dari rumah ada pusat makan baru yang salah satu restonya menyediakan menu sup kepala ikan. Ga tau kenapa rasanya badan jadi lebih segar setiap kali habis makan sup kepala ikan yang ada di resto itu. Selain masakannya, rupanya saya juga jatuh cinta dengan suasananya, nyaman banget buat santai dan melepas kepenatan, apalagi ada wifi-nya.. cucok deh!
- Team baru, job desc juga ada beberapa yang baru. Semoga jadi semangat baru dan pencapaian baru yang lebih baik. Amin
Kira-kira itu yang bisa diintip dari jendela ini. Jangan intip yang lain ya.. :)
Baca lanjutannya ya...>>>>>
MAAF.. empat huruf yang sangat mahal harganya, karena banyak orang masih susah untuk mengungkapkannya. Sebenarnya tidak sedikit permasalahan bisa diselesaikan dengan kata maaf. Bila ada kedewasaan yang dipanglimakan, maka kata maaf dapat meluncur mulus bak mengemudi di jalan tol. Permasalahan bisa segera tersolusikan. Hubungan dari nadir pun kembali ke titik normal, menjauhkan dari persengketaan dan perseteruan. Namun untuk permasalahan yang berakar dari harga diri dan rasa malu, kata memaafkan belum tentu dapat meluncur mulus. Butuh waktu, suasana batin dan mungkin keajaiban untuk memaafkan.
Permasalahan biasanya muncul akibat kuatnya intensitas hubungan yang disertai kekurangpahaman terhadap kondisi lawan bicara. Perubahan kondisi tubuh juga dapat mengakibatkan perasaan sensi yang berujung pada terkalahkannya logika. Padahal logika adalah panglima yang berperan sebagai pengontrol emosi. Jika emosi merajalela tanpa kendali, kata maaf belum tentu menjadi solusi. Tidak semua orang mampu menerima pernyataan ini dalam waktu sekejap. Butuh suasana hati yang pas. Moment adalah saat tepat untuk menyampaikannya.
Sebagian orang tidak mau menyampaikan kata maaf atau menerima maaf secara terbuka. Artinya, perilaku yang berubah adalah indikasi kata maaf telah terucap atau sebaliknya kata maaf telah termaafkan.
Bagi yang mempunyai tingkat kedewasaan tinggi dan agamis biasanya pemurah dalam membalas kata maaf. Orang-orang inilah yang mampu meredakan emosi dunia. Kemurahannya mampu menghilangkan tingkat kedalaman suatu kesalahan. Kemurahannya tidak memandang siapa yang melakukan kesalahan. Kemurahannya tidak memandang asal kesalahan, disengaja atau tidak. Baginya maaf adalah wajib jika diminta.
Mungkin saya agak berlebihan, bagi saya jika kata maaf dianggap murah, maka kesalahan akan mudah tercurah. Saya salut untuk kelompok pemaaf tulus, artinya dari hati hingga bibir kata maaf dan memaafkan meluncur dengan tulus dan bersih. Sepertinya saya belum bisa sehebat mereka. Saya masih belajar memaafkan dengan tulus, sinkron antara bibir dan hati. Bisa jadi kata memaafkan meluncur dari bibir, namun belum tentu keluar dari hati.
Saya mencoba berpikir logis, jika semua orang tahu dan paham apa hak dan kewajiban, paham tata krama dalam berkomunikasi dan bersosialisasi, kata maaf tidak akan boros terucap. Saling menjaga sikap dan perilaku itu wajib. Saya ingin terus belajar memberikan maaf dengan tulus namun saya masih sering menemukan permasalahan konyol yang seharusnya tidak perlu terjadi. Untuk hal yang satu ini tampaknya tataran saya baru sampai...I can forgive, but I can't forget!
Hujan masih rajin mengguyur. Musim demam karena flu atau bahkan demam berdarah masih banyak menyerang. Tapi bukan dua demam itu yang akan saya bahas, ada demam lain yang lebih dasyat yang saat ini sedang menjamur, demam facebook!
Hari gini siapa yang ga punya facebook? Orang bilang ga punya facebook berarti ga gaul. Remaja, dewasa, mama, papa, oom, tante, oma, opa, semua ber-facebook ria. Coba lihat teman-teman kantor kita yang kelihatannya serius di depan komputer. Benarkah sedang sibuk bekerja? Jangan-jangan mereka sedang asyik dengan facebook-nya? Nah lo..
Situs jejaring sosial yang satu ini memang sedang membius banyak orang. Melalui facebook orang bisa membaca aktivitas yang sedang kita lakukan. Konon saling berkomentar terhadap perubahan status inilah yang paling mengasyikan dan bikin kecanduan. Facebook juga memungkinkan kita bertemu teman-teman lama yang mungkin sudah menyebar di berbagai sudut kota bahkan dunia. Entah karena alasan ingin mencari teman lama atau sekedar agar eksistensi diperhitungkan, kita sibuk menambah teman. Tapi coba kita lihat kembali daftar teman kita, benar ga sih kita mengenal semuanya? Atau sebaliknya, jangan-jangan yang masuk dalam daftar kita justru teman-teman yang setiap hari ketemu, bahkan duduk atau lokasinya tidak jauh dari kita. Hmmm..
Saya tidak tahu apakah blog juga termasuk dalam kategori situs jejaring sosial atau tidak. Yang jelas saya juga bisa bertemu teman lama bahkan teman baru yang akhirnya benar-benar jadi teman di situs ini. Entah kenapa saya belum bisa merasakan asyiknya ber-facebook ria. Bikin perubahan status, berkomentar, tag foto dsb.. dsb.. dsb.. Mungkin saya yang ndeso, katro atau ga gaul, tapi sampai saat ini saya kok lebih menikmati nge-blog daripada nge-facebook. Entah..
Gambar : prayudi.wordpress.com
Suara bisik-bisik beredar. Banyak pembawa pesan. Makin hari pesan semakin bikin tegang.
Bukan memilih, bukan menolak apalagi mengatur. Namun masih bolehkah kita jujur?
Bukan tidak bisa. Kita pasti mampu dan berdaya. Namun setiap orang mempunyai akselerasi dan tujuan yang berbeda.
Pasrah..
Mungkin ini kata yang paling pas.. Karena tidak ada pilihan kata
lagi selain pasrah..
About me
Blog List
-
cahaya dari tanah suci12 jam yang lalu
-
my way or no way19 jam yang lalu
-
Geblitz …. Ngebut Bangkrut !20 jam yang lalu
-
Warung Kopi Alun-2 Indonesia21 jam yang lalu
-
pulang kondangan22 jam yang lalu
-
Sedih…3 hari yang lalu
-
-
Perfectionist3 hari yang lalu
-
Mendadak Yogya4 hari yang lalu
-
-
Frustrasi ditolak!5 hari yang lalu
-
Di Sini Aku Pernah Tinggal1 minggu yang lalu
-
Belajar Berpikir…2 minggu yang lalu
-
Maksudnya adalah....2 minggu yang lalu
-
saya2 minggu yang lalu
-
Pindahan.....2 minggu yang lalu
-
Belom sempet posting serius3 minggu yang lalu
-
Nggak Jadi Pindah Euyyy....3 minggu yang lalu
-
Kembali Ngeblog...4 minggu yang lalu
-
Cuti Dulu Deh…!5 minggu yang lalu
-
abnormal1 bulan yang lalu
-
we never even got a chance to say good bye2 bulan yang lalu
-
-
Sedih2 bulan yang lalu
-
I N A yang Menggemaskan2 bulan yang lalu
-
From My Husband3 bulan yang lalu
-
Private Blog...4 bulan yang lalu
-
tanggal terakhir di kalender5 bulan yang lalu
-
Mohon Maaf5 bulan yang lalu
-
aksioma...6 bulan yang lalu
-
Tawuran Mahasiswa, apa bedanya dengan Preman?8 bulan yang lalu
-
September already2 tahun yang lalu
-






